Nasional

Bakal Gabung Danantara, Siapa Sosok Ray Dalio?

  • Berdasarkan catatan Forbes, per 10 Maret 2025, Dalio memiliki harta mencapai US$14 miliar atau sekitar Rp228 triliun (asumsi kurs Rp16.294 per dolar AS). Tumpukan hartanya itu menjadikan Ray Dalio sebagai orang terkaya ke-162 di dunia.
1000470749.jpg

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara masih hangat menjadi perbincangan, apalagi nama Ray Dalio selaku pendiri Hedge Fund Bridgewater Associates dikabarkan akan masuk dalam jajaran kepengurusan.

Hal ini terungkap usai Presiden RI Prabowo Subianto mengundangnya, jajaran Kabinet Merah Putih, serta pengusaha kelas kakap di Indonesia ke Istana Kepresidenan, Jumat 7 Maret 2025.

Ia menyebut, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar. Potensi tersebut dapat terdiri dari beberapa faktor, di antaranya, utang yang rendah dan memiliki kecukupan dana sebagai modal untuk investasi.

"Indikator-indikator tersebut meliputi tingkat utang yang relatif rendah, kemampuan untuk memiliki modal yang dapat diinvestasikan untuk menciptakan titik lepas landas (bagi perekonomian)," ujar Ray Dalio mengutip YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 10 Maret 2025.

Sosok Ray Dalio

Melansir laman Bridgewater, Raymond Thomas Dalio atau Ray Dalio mendirikan dana lindung nilai atau hedge fund terbesar di dunia, yaitu Bridgewater Associates di apartemennya di Connecticut, Amerika Serikat, pada 1975. Lembaga tersebut mengelola dana sebesar US$124 miliar atau sekitar Rp1.984 triliun (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS).

Beroperasi selama 47 tahun, Bridgewater Associates dikenal sebagai perusahaan dana lindung terkemuka dan terbesar di dunia, serta perusahaan swasta paling penting kelima di Amerika Serikat menurut Majalah Fortune. 

Melansir Forbes, Ia menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana seni atau sains dari Long Island University, Amerika Serikat. Dia kemudian melanjutkan studi hingga mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA) dari Harvard Business School pada 1973.

Ray Dalio memang terlahir di lingkungan kelas menengah, di usia 12 tahun dia mendapatkan berbagai pengetahuan seputar bisnis dari para pemain golf yang menjadi caddy-nya.

Setelah yakin memiliki ilmu berinvestasi, ia kemudian menyisihkan penghasilan selama menjadi caddy US$300 untuk membeli saham Northeast Airlines. Beruntung, harga saham yang dibelinya meningkat tiga kali lipat.

Sehingga, ia mulai meluncurkan Bridgewater Associates ketika tamat dari Harvard Business School. Beberapa klien besar yang dipegang Bridgewater di antaranya California Public Employees' Retirement System (CalPERS) senilai US$196 miliar, Pennsylvania State Employees' Retirement System (Penn SERS atau SERS) senilai US$27 miliar, National Australia Bank Ltd yang berbasis di Melbourne dan dana pensiun United Technologies Corp yang berbasis di Hartford, Connecticut.

Sayangnya di tahun 2017, Ray Dalio Dalio mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO Bridgewater Associates. Ia menyerahkan mayoritas kontrol ke dewan perusahaan. Per 2023, total aset yang dikelola perusahaan berkisar US$125 miliar.

Sejak 2022, Dalio memutuskan untuk pensiun sebagai koordinator pelaksana di bidang investasi atau co-Chief Investment Officer (co-CIO), menyelesaikan masa transisi kendali mayoritas ke dewan direksi. Bridgewater Associates sendiri dikenal dengan budaya “transparansi radikal”, termasuk mendorong kebebasan berpendapat. 

Sementara, berdasarkan catatan Forbes, per 10 Maret 2025, Dalio memiliki harta mencapai US$14 miliar atau sekitar Rp228 triliun (asumsi kurs Rp16.294 per dolar AS). Tumpukan hartanya itu menjadikan Ray Dalio sebagai orang terkaya ke-162 di dunia.