Tren Pasar

BACH-EMMI Kompak Naik Hari Perdana IPO, Cek Prospeknya

  • BACH dan EMMI mencatat kenaikan lebih dari 20% pada hari pertama. Kenali bisnis, fundamental, dan prospeknya
Aktifitas Bursa Saham - Panji 4.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Dua emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 8 Juli 2026, yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), mencatatkan debut yang positif. 

Keduanya ditutup menguat lebih dari 20% dibanding harga penawaran umum perdana (IPO), menunjukkan tingginya minat investor terhadap saham-saham baru di pasar modal.

BACH yang bergerak di sektor penyediaan genset dan infrastruktur telekomunikasi langsung menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada sesi I pertama perdagangan dengan nilai 550.

Sementara itu, EMMI yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan juga sempat mencapai ARA sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawah level tertingginya diposisi 565 pada sesi I perdagangan.

Meski sama-sama mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan perdana, kedua emiten memiliki model bisnis, prospek industri, hingga tantangan yang berbeda.

PT Bach Multi Global Tbk menetapkan harga IPO sebesar Rp442 per saham. Pada perdagangan perdana, saham BACH dibuka di level Rp550 atau melonjak 24,43%, sekaligus menjadi harga tertinggi dan penutupan hingga sesi I karena langsung menyentuh batas ARA.

Sementara itu, PT Esa Medika Mandiri Tbk menawarkan saham perdana di harga Rp470 per saham. Saham EMMI dibuka pada level Rp480 atau naik 2,13%, kemudian sempat menyentuh Rp585 atau batas ARA sebelum ditutup pada Rp565, menguat 20,21% dibanding harga IPO.

Melalui aksi korporasi tersebut, BACH menawarkan 615 juta saham atau sekitar 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO dengan potensi dana yang dihimpun sekitar Rp271,83 miliar hingga Rp307,5 miliar.

Adapun EMMI melepas 522,86 juta saham atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan nilai penghimpunan dana sekitar Rp245,74 miliar hingga Rp269,27 miliar.

Baca juga : Analisis dan Insight Harga Emas Antam Hari Ini 8 Juli 2026

Profil PT Bach Multi Global Tbk (BACH)

PT Bach Multi Global Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan dan penyewaan generator set (genset) serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.

Perusahaan telah beroperasi lebih dari dua dekade dan mengembangkan bisnis pada sektor kelistrikan pendukung telekomunikasi. Hingga kini BACH mengklaim telah mengelola lebih dari 40.000 site, mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi.

Sejumlah pelanggan berasal dari perusahaan besar seperti Protelindo Group, PLN Group, Bank Mandiri, BRI, Huawei, hingga Indosat Ooredoo Hutchison.

Dari sisi kinerja, BACH membukukan pendapatan Rp1,73 triliun pada 2025, meningkat sekitar 40% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan juga melonjak menjadi Rp155 miliar, atau tumbuh sekitar 97,5% secara tahunan. Margin laba bersih meningkat dari sekitar 6,3% menjadi 9%, mencerminkan peningkatan efisiensi operasional.

Sebagian besar dana IPO akan digunakan untuk memperkuat bisnis inti. Sekitar 70% dana dialokasikan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset, sedangkan 30% sisanya digunakan membayar sebagian pinjaman bank.

Baca juga : Hanya MEDC yang Hijau di Pembukaan LQ45 Hari Ini

Profil PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)

Berbeda dengan BACH, PT Esa Medika Mandiri Tbk beroperasi di sektor perdagangan alat kesehatan. Berdiri sejak tahun 2000, perusahaan berfokus pada penyediaan peralatan medis untuk ruang operasi, Intensive Care Unit (ICU), hingga Central Sterile Supply Department (CSSD).

Selain menjual alat kesehatan, EMMI juga menyediakan layanan purnajual, pelatihan teknis, serta dukungan pemeliharaan. Hingga kini perusahaan telah melayani lebih dari 200 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.

Pada 2025, EMMI mencatatkan penjualan bersih Rp454,64 miliar, naik sekitar 18,11% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih bahkan jauh lebih tinggi, yakni mencapai Rp32,44 miliar, meningkat sekitar 188,23% secara tahunan.

Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat modal kerja sekitar 72,3%, termasuk pembelian persediaan barang dan penyelesaian proyek. Selain itu, Rp50 miliar dialokasikan untuk melunasi sebagian pinjaman bank, sementara sekitar 6,4% dana digunakan membangun fasilitas produksi baru di Cikupa, Tangerang.

Prospek Bisnis Kedua Emiten

Prospek BACH masih didukung oleh meningkatnya kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, pembangunan pusat data (data center), serta kebutuhan cadangan listrik untuk kawasan industri maupun komersial. Perseroan bahkan menargetkan pendapatan meningkat menjadi sekitar Rp3 triliun pada 2030, dengan laba bersih diproyeksikan mencapai Rp401 miliar.

Di sisi lain, prospek EMMI didorong oleh pertumbuhan sektor kesehatan nasional, meningkatnya investasi rumah sakit, modernisasi fasilitas kesehatan, serta meningkatnya kebutuhan alat kesehatan dalam negeri. Pembangunan pabrik baru diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Di balik kenaikan harga saham pada hari pertama, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah faktor risiko.

Baca juga : IHSG Dibuka Turun 0,8 Persen, JECX dan JELI Lanjut ARA

Pada BACH, kinerja perusahaan masih cukup bergantung pada proyek infrastruktur telekomunikasi serta permintaan genset dari pelanggan besar seperti operator telekomunikasi dan PLN. Perlambatan investasi infrastruktur berpotensi memengaruhi pertumbuhan pendapatan perseroan.

EMMI juga menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada proyek pengadaan alat kesehatan, baik dari pemerintah maupun rumah sakit swasta. Perubahan kebijakan belanja kesehatan dapat memengaruhi permintaan produk perusahaan.

Kedua emiten juga menggunakan sebagian dana IPO untuk melunasi pinjaman bank, yang menunjukkan upaya memperbaiki struktur permodalan setelah sebelumnya memiliki tingkat leverage yang relatif tinggi.

Selain itu, lonjakan harga pada hari pertama perdagangan juga meningkatkan potensi koreksi jangka pendek, fenomena yang kerap terjadi pada saham-saham IPO setelah euforia awal mereda.