Korporasi

Babak Belur, Langgeng Makmur Industri Bukukan Rugi Bersih Rp41,33 Miliar

  • PT Langgeng Makmur Industri Tbk mengalami kerugian bersih hingga Rp41,33 miliar pada 2020. Padahal, pendapatan usaha perusahaan produsen alat rumah tangga ini hanya menurun 0,75% dari Rp517 miliar pada 2019 menjadi Rp513 miliar pada 2020.

<p>Awak media beraktivitas dengan latar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 13 April 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Awak media beraktivitas dengan latar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 13 April 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – PT Langgeng Makmur Industri Tbk mengalami kerugian bersih hingga Rp41,33 miliar pada 2020. Padahal, pendapatan usaha perusahaan produsen alat rumah tangga ini hanya menurun 0,75% dari Rp517 miliar pada 2019 menjadi Rp513 miliar pada 2020.

Kerugian itu berasal dengan beban pokok penjualan yang merangkak naik dari Rp467,56 miliar pada 2019 menjadi Rp468,81 miliar pada 2020. Kerugian juga dipicu raihan laba kotor yang sebesar Rp44,79 miliar atau lebih rendah ketimbang beban umum dan administrasi perusahaan.

Laba kotor perusahaan tidak dapat menutup beban umum dan administrasi perusahaan yang mencapai Rp50,58 miliar. Kerugian kian melebar setelah ditambahkan beban penjualan, beban keuangan, serta beban lainnya yang masing-masing sebesar Rp16,2 miliar, Rp23,89 miliar, dan Rp3,4 miliar.

Direktur Utama (Dirut) PT Langgeng Makmur Industri Hidayat Alim mengungkap, kondisi ini memaksa emiten berkode LMPI mesti berhati-hati menjaga likuiditas dan sumber daya perusahaan.

“Manajemen terus memantau secara seksama operasi, likuiditas dan sumber daya yang dimiliki Perusahaan, serta bekerja secara aktif untuk mengurangi dampak saat ini dan dampak masa depan dari situasi ini yang belum pernah dialami sebelumnya,” terang Hidayat dalam keterangan resmi, Rabu 14 April 2021.

Kerugian ini telah dialami perusahaan selama dua tahun berturut-turut. Pada 2019, perusahaan tercatat membukukan rugi bersih sebesar Rp41 miliar.

Dengan demikian, rugi per saham dasar yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp40,98 per lembar saham. Angka itu turun tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp41,32 per lembar saham.

Kerugian yang dialami perusahaan kian membuat total aset menyusut dari Rp737,64 miliar pada 2019 menjadi Rp698,25 miliar pada 2020. Kondisi keuangan perusahaan kian tertekan usai liabilitas mengalami kenaikan menjadi Rp451 miliar pada 2020 dari sebelumya Rp448 miliar pada 2019.

Menimbang ekuitas perusahaan yang sebesar Rp246 miliar pada 2020, maka diketahui Debt to Equity ratio (DER) sebesar 1,8 kali. Ini menjadi alarm bagi perusahaan karena total kewajiban jumlahnya mendekati dua kali lipat dari modal bersih.

Emiten yang bermarkas di Sidoarjo ini menyebut bakal memperbaiki kinerja pada 2021. Perusahaan mematok pertumbuhan penjualan hingga 10% di segala lini bisnis pada tahun ini.

Untuk diketahui, pendapatan perusahaan berasal dari produk peralatan rumah tangga, produk pipa PVC, fitting dan talang air yang digunakan untuk proyek saluran air.(RCS)