Awal 2026 Data Bagus: BBCA dan ASII Siap Primadona
- Pembukaan perdagangan Jumat, 2 Januari 2026: Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham BBCA, PANI, BBNI, JSMR, dan ASII. Sentimen data domestik positif.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Hari ini, Jumat, 2 Januari 2026, menjadi momentum perdana pembukaan perdagangan pasar saham Indonesia di tahun yang baru. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan siap melanjutkan tren penguatan pada sesi awal tahun ini.
Untuk memaksimalkan momentum ini Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham pilihan seperti BBCA, PANI, BBNI, JSMR, dan ASII. Deretan saham unggulan tersebut dinilai memiliki potensi penguatan teknikal yang menarik pada perdagangan hari ini. Investor dapat mencermati level harga terbaik untuk melakukan akumulasi beli bertahap.
Gerak indeks diperkirakan akan mencoba menguji level resistensi baru di angka 8.725 setelah libur usai. Indikator teknikal memperlihatkan sinyal pembalikan arah atau reversal yang cukup kuat menuju area positif perdagangan. "Diperkirakan penguatan IHSG berpotensi berlanjut," tulis riset Phintraco Sekuritas.
1. Sinyal Teknikal Reversal
Indikator Stochastic RSI mengindikasikan berlanjutnya sinyal reversal indeks menuju area pivot yang lebih tinggi. Histogram negatif MACD yang menyempit menandakan tekanan jual mulai melambat secara signifikan di pasar saham. Pola ini memberikan sinyal bahwa tren jangka pendek indeks mulai beralih ke fase bullish.
Posisi penutupan indeks di atas garis rata-rata pergerakan MA5 dan MA20 semakin mengonfirmasi potensi penguatan. Pola teknikal ini memberikan keyakinan bagi investor bahwa indeks memiliki tenaga untuk menembus resistensi terdekat. Investor teknikal dapat memanfaatkan momentum ini untuk masuk ke pasar saham.
Berdasarkan analisis tersebut IHSG diperkirakan memiliki peluang besar untuk bergerak menguat menguji level resistensi 8.725. Target penguatan indeks pada perdagangan perdana tahun ini berada di kisaran level 8.680 hingga 8.725. "Indikator Stochastic RSI IHSG mengindikasikan berlanjutnya reversal," ungkap tim analisis Phintraco Sekuritas.
2. Sentimen Data Domestik
Pelaku pasar hari ini akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi domestik strategis bulan Desember. Indeks S&P Global Manufacturing PMI bulan Desember diperkirakan akan sedikit membaik ke level 53,6 poin. Data ini menjadi indikator penting kesehatan sektor manufaktur nasional di awal tahun 2026.
Selain itu neraca perdagangan bulan November diprediksi membukukan surplus sebesar US$2,7 miliar yang menunjukkan ketahanan. Peningkatan surplus neraca dagang akan memberikan sentimen positif terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah ke depannya. Fundamental ekonomi yang terjaga menjadi bantalan kuat bagi pasar modal domestik.
Investor juga menantikan data inflasi bulan Desember 2025 yang diestimasikan melambat menjadi 2,5 persen tahunan. Terkendalinya laju inflasi memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. "Investor akan menantikan sejumlah data ekonomi domestik," sebut riset Phintraco Sekuritas.
3. Sentimen Data Mancanegara
Di sisi lain indeks utama Wall Street sukses membukukan penguatan tahunan yang solid sepanjang 2025. Pemulihan pasar saham Amerika Serikat ditopang oleh sentimen positif penurunan suku bunga The Fed tiga kali. Ekonomi negara adidaya tersebut terbukti masih cukup tangguh menahan gejolak global.
Namun koreksi Wall Street di hari terakhir menimbulkan kecemasan memudarnya reli awal tahun ini. Kekhawatiran akan meningkatnya volatilitas pasar global perlu diantisipasi oleh investor domestik dalam menyusun strategi portofolio. "Menimbulkan kekhawatiran akan potensi meningkatnya fluktuasi," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Investor global tetap mewaspadai potensi fluktuasi akibat ketidakpastian perang tarif yang mungkin berlanjut. Penundaan tarif furnitur oleh Presiden Trump memberikan sedikit kelegaan bagi pelaku pasar global di akhir tahun. Isu geopolitik dan kebijakan moneter The Fed masih menjadi fokus utama investor.
4. Review 2025 dan Komoditas
Sepanjang tahun 2025 IHSG mencatatkan kinerja gemilang dengan penguatan akumulatif mencapai 22,13 persen di bursa. Seluruh sektor saham ditutup di zona hijau dengan kenaikan terbesar dipimpin oleh emiten sektor teknologi. Kinerja ini mencerminkan pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Nilai tukar Rupiah juga terpantau menguat ke level Rp16.771 per dolar AS seiring tren positif Asia. Penguatan mata uang garuda memberikan insentif bagi investor asing untuk kembali masuk ke aset rupiah. "IHSG ditutup menguat 22.13% di tahun 2025," catat data Phintraco.
Sementara itu harga komoditas emas dan perak mengalami koreksi akibat aksi ambil untung investor global. Kenaikan jaminan kontrak berjangka oleh operator bursa CME turut menekan harga logam mulia di pasar. Tekanan pada komoditas dapat mempengaruhi pergerakan saham sektor pertambangan hari ini.
5. Detail Saham Pilihan
Secara spesifik Phintraco Sekuritas menyoroti saham perbankan besar seperti BBCA dan BBNI sebagai pilihan utama. Kedua saham blue chip ini dinilai memiliki fundamental solid dan sering menjadi incaran investor asing. Potensi reboundteknikal pada sektor perbankan cukup terbuka lebar hari ini.
Sementara itu saham PANI dan JSMR menawarkan potensi pertumbuhan dari sektor properti dan infrastruktur. ASII juga masuk dalam daftar rekomendasi mengingat valuasinya yang menarik dan diversifikasi bisnis yang luas. Diversifikasi portofolio pada saham likuid sangat disarankan saat ini untuk meminimalisir risiko.
Investor disarankan untuk memperhatikan titik entry yang tepat pada saham-saham berkapitalisasi besar tersebut. Momentum awal tahun seringkali dimanfaatkan untuk penyusunan ulang portofolio investasi oleh manajer investasi besar. "Top picks, 2 Januari 2026: BBCA, PANI, BBNI, JSMR dan ASII," rekomendasi Phintraco.

Alvin Bagaskara
Editor
