Tren Pasar

Aturan Harga Rp1 Berlaku, Cek Daftar Saham yang Langsung ARB

  • Aturan harga minimum saham Rp1 berlaku, 23 saham yang sebelumnya gocap langsung ARB. GOTO turun ke Rp43 dengan antrean jual jumbo.
IHSG Ditutup Menguat-4.jpg
Karyawan beraktivitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sebanyak 23 saham tercatat menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) pada perdagangan Senin, 28 September 2026, bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan batas harga minimum saham Rp1 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 atau gocap langsung mengalami tekanan jual setelah ruang perdagangan di bawah Rp50 dibuka. Mayoritas saham tersebut turun hingga batas ARB 14% ke level Rp43.

Berdasarkan data perdagangan sesi 1 28 September 2026,, GOTO menjadi saham dengan antrean jual terbesar. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk tersebut menyentuh ARB di Rp43 dengan antrean jual mencapai lebih dari 1 miliar lot.

Selain GOTO, sejumlah saham lain yang sebelumnya berada di level Rp50 juga mengalami penurunan hingga ARB. Saham-saham tersebut antara lain DADA, WMUU, KPIG, PADI, CPRO, ATLA, BABP, MAXI, REAL, BCAP, BBKP, LPKR, NETV, dan MSKY.

Baca juga : Rupiah Dekati Rp18.000, Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Asia

Berikut deretan saham yang tercatat mengalami ARB pada hari pertama penerapan kebijakan harga minimum Rp1,

  • GOTO – GoTo Gojek Tokopedia Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual >1 miliar lot.
  • DADA – Diamond Citra Propertindo Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 5,76 juta lot.
  • WMUU – Widodo Makmur Unggas Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual >4 juta lot.
  • KPIG – MNC Tourism Indonesia Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 3,31 juta lot.
  • PADI – Minna Padi Investama Sekuritas Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 2,72 juta lot.
  • CPRO – Central Proteina Prima Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 1,69 juta lot.
  • ATLA – Atlantis Subsea Indonesia Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 1,62 juta lot.
  • BABP – Bank MNC Internasional Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 1,45 juta lot.
  • MAXI – Maxindo Karya Anugerah Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 1,25 juta lot.
  • REAL – Repower Asia Indonesia Tbk: turun 14% ke Rp43, antrean jual 1,17 juta lot.
  • BCAP – MNC Kapital Indonesia Tbk: turun 14% ke Rp43.
  • BBKP – Bank KB Indonesia Tbk: turun 14% ke Rp43.
  • LPKR – Lippo Karawaci Tbk: turun 14% ke Rp43.
  • NETV – MDTV Media Technologies Tbk: turun 14% ke Rp43.

Selain daftar tersebut, BSBK, PNBS, RBMS, WEGE, dan WOWS juga sebelumnya berada di level Rp50 sehingga turut menjadi saham yang mendapat ruang bergerak setelah batas harga minimum baru diterapkan.

Baca juga : Saham Rp1 Berlaku, GOTO Langsung Ambles 14 Persen

Mengapa Saham Rp50 Langsung ARB?

Fenomena ARB pada saham-saham gocap tidak terlepas dari perubahan mekanisme perdagangan saham di BEI.

Sebelum 28 September 2026, harga minimum saham di pasar reguler berada di Rp50. Kondisi tersebut membuat saham yang sudah mencapai level tersebut tidak dapat bergerak lebih rendah melalui mekanisme perdagangan reguler.

Setelah batas minimum diturunkan menjadi Rp1, saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 memiliki ruang untuk membentuk harga baru di bawah level tersebut.

Tekanan jual yang sebelumnya tidak dapat tersalurkan kemudian dapat masuk ke dalam mekanisme pasar. Ketika jumlah saham yang ditawarkan jauh lebih besar dibandingkan permintaan pada harga tertentu, antrean jual dapat menumpuk dan harga bergerak menuju batas ARB.

Dengan demikian, penurunan saham dari Rp50 menjadi Rp43 pada hari pertama tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya perubahan fundamental pada masing-masing emiten. Pergerakan tersebut juga berkaitan dengan proses price discovery, yaitu proses terbentuknya kembali harga berdasarkan interaksi permintaan dan penawaran setelah rentang harga di bawah Rp50 dibuka.

Besarnya antrean jual menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam perdagangan hari pertama kebijakan tersebut. GOTO menjadi contoh paling mencolok dengan antrean jual lebih dari 1 miliar lot di level Rp43. DADA menyusul dengan sekitar 5,76 juta lot, sedangkan WMUU memiliki antrean lebih dari 4 juta lot.

Antrean tersebut menunjukkan masih terdapat pasokan saham yang belum terserap pada harga ARB. Selama jumlah penawaran tetap lebih besar dibandingkan permintaan, tekanan harga dapat berlanjut pada perdagangan berikutnya.

Namun, besarnya antrean jual pada satu hari perdagangan tidak dapat digunakan sebagai kepastian bahwa harga saham akan terus turun. Pergerakan berikutnya tetap bergantung pada perubahan permintaan dan penawaran serta informasi baru yang masuk ke pasar.

Baca juga : Daftar 8 Saham Bagi Dividen Oktober 2026, Ada BMRI-CDIA

Apa Dampaknya bagi Saham yang Sebelumnya di Rp50?

Penerapan harga minimum Rp1 pada dasarnya membuka rentang perdagangan yang sebelumnya tertutup bagi saham yang telah mencapai Rp50.

Bagi investor, perubahan ini membuat harga saham di bawah gocap kini dapat terbentuk di pasar reguler. Harga Rp43, misalnya, sebelumnya tidak tersedia sebagai harga perdagangan reguler ketika batas minimum masih Rp50.

Karena itu, perdagangan pada fase awal penerapan aturan baru menjadi periode penting untuk melihat bagaimana pasar membentuk harga baru bagi saham-saham yang sebelumnya lama berada di level Rp50.

Jika tekanan jual masih besar dan permintaan belum mampu menyerap pasokan, saham-saham tersebut dapat kembali menghadapi ARB pada perdagangan berikutnya. Sebaliknya, apabila permintaan meningkat, proses pembentukan harga dapat menghasilkan level perdagangan baru.

Dengan kata lain, ARB pada saham Rp50 setelah aturan harga minimum Rp1 berlaku merupakan bagian dari proses price discovery, bukan semata-mata fenomena penurunan harga.i.