Asing Terus Borong AMMN, Cek Kinerja dan Prospek Sahamnya
- Saham AMMN berpotensi mendapat katalis dari hilirisasi dan ramp-up smelter. Simak kinerja terbaru, arus asing, proyeksi laba, dan risikonya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu saham tambang yang mencuri perhatian investor pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini.
Saham AMMN sempat mengalami penguatan signifikan dari level Rp4.140 pada penutupan perdagangan Selasa (19/8/2026) menjadi Rp4.490 pada Rabu (20/8/2026). Dengan demikian, saham AMMN melonjak sekitar 5,15%.
Penguatan tersebut berlanjut pada perdagangan Jumat (21/8/2026), meski pergerakannya mulai mengalami konsolidasi. Pada penutupan sesi I, saham AMMN berada di level Rp4.460 atau turun tipis 0,22% dari posisi sebelumnya.
Pada sesi I perdagangan Jumat, AMMN bergerak dalam rentang Rp4.300 hingga Rp4.540. Volume transaksi tercatat sekitar 88,61 juta saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 65 hari yang mencapai sekitar 130,15 juta saham.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena terjadi setelah saham AMMN sebelumnya berada jauh di bawah level tertinggi 52 minggunya yang mencapai Rp9.100.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: BBRI dan BBTN Terbang, JPFA Tiarap
Asing Borong Saham AMMN Rp408 Miliar
Salah satu faktor yang membuat AMMN menjadi perhatian investor adalah derasnya aliran dana asing. Pada perdagangan Kamis (20/8/2026), investor asing mencatatkan net buy saham AMMN sekitar Rp408,08 miliar. Nilai tersebut menjadikan AMMN sebagai salah satu saham dengan pembelian bersih asing terbesar di Bursa Efek Indonesia pada hari tersebut.
Arus dana asing menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat mencerminkan meningkatnya minat investor institusi terhadap saham tertentu.
Namun, net buy asing dalam satu hari belum dapat dijadikan jaminan bahwa tren kenaikan harga AMMN akan berlanjut. Investor tetap perlu melihat konsistensi aliran dana, volume perdagangan, kondisi pasar secara keseluruhan, serta perkembangan fundamental perusahaan.
Dari sisi fundamental, AMMN memasuki 2026 dengan kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I 2026, AMMN mencatat pendapatan sekitar US$808 juta atau setara Rp13,7 triliun.
Pendapatan tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut juga membawa perusahaan membalikkan kerugian menjadi laba.
AMMN mencatat EBITDA sekitar US$508 juta pada kuartal I 2026, dibandingkan EBITDA negatif sekitar US$42 juta pada kuartal I 2025. Margin EBITDA perusahaan mencapai sekitar 63%.
Sementara itu, laba bersih AMMN mencapai US$163 juta pada kuartal I 2026. Angka tersebut berbalik dari kerugian bersih sekitar US$138 juta pada kuartal I 2025.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kontribusi operasi perusahaan setelah memasuki fase produksi dan pengolahan yang lebih tinggi.
Baca juga : Indeks LQ45 Hari Ini 20 Agustus 2026 Ditutup Naik 11,27 ke 638,74 Poin
Pendapatan AMMN Meningkat Tajam Sepanjang 2025-2026
Perbaikan kinerja AMMN juga terlihat dari tren pendapatan secara kuartalan. Berdasarkan data MarketWatch, pendapatan AMMN pada kuartal I 2025 tercatat sekitar Rp34,72 miliar. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi Rp2,98 triliun pada kuartal II 2025.
Pada kuartal III 2025, pendapatan kembali meningkat menjadi sekitar Rp5,93 triliun. Lonjakan terbesar terjadi pada kuartal IV 2025 ketika pendapatan mencapai sekitar Rp21,67 triliun.
Memasuki kuartal I 2026, pendapatan AMMN tercatat sekitar Rp13,62 triliun. Meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2025 secara kuartalan, angka tersebut menunjukkan bahwa skala bisnis AMMN telah meningkat jauh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu katalis penting AMMN berasal dari perubahan struktur bisnis perusahaan. Setelah izin ekspor konsentrat berakhir pada April 2026, perusahaan semakin mengandalkan hasil pengolahan mineral di dalam negeri.
Pada kuartal I 2026, sekitar 58% pendapatan AMMN disebut berasal dari produk logam olahan, bukan lagi konsentrat. Perubahan tersebut menjadi penting karena hilirisasi memberikan peluang bagi perusahaan untuk memperoleh nilai tambah lebih besar dari sumber daya mineral yang diproduksi.
AMMN memiliki fasilitas pengolahan yang memungkinkan perusahaan menghasilkan produk bernilai tambah seperti katoda tembaga serta emas murni.
Dengan meningkatnya kontribusi produk hilir, kinerja AMMN tidak hanya bergantung pada volume produksi konsentrat, tetapi juga kemampuan perusahaan mengoperasikan fasilitas pengolahan secara optimal.
Katalis lain berasal dari proses peningkatan utilisasi fasilitas pengolahan. Fasilitas smelter dan precious metal refinery (PMR) AMMN masih berada dalam tahap ramp-up. Tingkat utilisasinya disebut berada di kisaran 50%-46% dari kapasitas desain.
Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan produksi ketika fasilitas beroperasi semakin mendekati kapasitas optimal. Peningkatan utilisasi smelter dapat menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan pendapatan dan EBITDA AMMN ke depan. Pasalnya, semakin tinggi volume produksi produk olahan, semakin besar pula potensi kontribusi fasilitas hilir terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Baca juga : IHSG Hari Ini 20 Agustus 2026 Ditutup Naik ke 6.501,59 Poin
AMMN Ekspansi Kapasitas Pengolahan
Selain meningkatkan utilisasi fasilitas yang sudah tersedia, AMMN juga memiliki agenda ekspansi kapasitas. Kapasitas pengolahan perusahaan ditargetkan meningkat dari sekitar 40 juta ton menjadi sekitar 85 juta ton per tahun.
Ekspansi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat investor melihat prospek pertumbuhan jangka menengah AMMN. Jika ekspansi berjalan sesuai rencana, peningkatan kapasitas dapat memperbesar kemampuan perusahaan dalam mengolah mineral sekaligus meningkatkan kontribusi produk hilir terhadap pendapatan.
Namun, realisasi ekspansi tetap bergantung pada penyelesaian proyek, kebutuhan investasi, utilisasi fasilitas, serta kondisi operasional perusahaan.
Prospek fundamental AMMN juga tercermin dalam proyeksi sejumlah analis. BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi Buy untuk saham AMMN dengan target harga Rp6.000 per saham.
Proyeksi tersebut didukung ekspektasi pertumbuhan signifikan pada pendapatan dan laba perusahaan. Untuk tahun penuh 2026, pendapatan AMMN diproyeksikan mencapai sekitar US$4 miliar atau tumbuh sekitar 117% secara tahunan.
EBITDA diperkirakan mencapai sekitar US$2 miliar, atau tumbuh sekitar 97%. Sementara itu, laba bersih AMMN diproyeksikan berada di kisaran US$806 juta hingga US$879 juta. Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, angka tersebut mencerminkan pertumbuhan laba sekitar 223%-253%.
Proyeksi tersebut menunjukkan ekspektasi bahwa peningkatan produksi, ramp-up smelter, serta kontribusi produk hilir akan menjadi pendorong utama kinerja AMMN pada 2026.
Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Naik 0,4 Persen, COIN dan VINA jadi Katalis
Saham AMMN Masih Jauh dari Level Tertinggi 52 Minggu
Dengan harga Rp4.460 pada penutupan sesi I Jumat (21/8/2026), saham AMMN masih berada cukup jauh dari level tertinggi 52 minggu yang mencapai Rp9.100.
Di sisi lain, saham AMMN juga telah mengalami pemulihan dari level terendah 52 minggu yang berada di sekitar Rp2.710. Pergerakan tersebut menunjukkan tingginya volatilitas saham AMMN dalam satu tahun terakhir.
Kenaikan dari Rp4.140 pada 19 Agustus menjadi Rp4.490 pada 20 Agustus juga menunjukkan adanya momentum beli yang cukup kuat sebelum saham kembali bergerak relatif datar pada sesi I perdagangan Jumat.
Investor perlu memperhatikan apakah penguatan tersebut mampu diikuti peningkatan volume transaksi dan arus dana yang konsisten.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
Secara fundamental, AMMN memiliki sejumlah katalis yang berpotensi mendukung kinerja saham.
- Pertama, peningkatan kontribusi produk hilir setelah berakhirnya izin ekspor konsentrat.
- Kedua, ramp-up smelter dan PMR yang masih menyisakan ruang untuk meningkatkan utilisasi.
- Ketiga, ekspansi kapasitas pengolahan yang berpotensi meningkatkan volume produksi.
- Keempat, proyeksi pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih yang cukup agresif.
- Kelima, masuknya dana asing dalam jumlah besar pada perdagangan Kamis (20/8/2026).
AMMN juga memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Harga komoditas global, terutama tembaga dan emas, dapat memengaruhi pendapatan perusahaan. Selain itu, investor perlu mencermati risiko operasional, kebutuhan belanja modal, progres ekspansi, utilisasi smelter, serta kondisi pasar saham secara keseluruhan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
