Tren Pasar

Asing Borong ASII, Kenapa BUMI dan BRPT Malah Terbang?

  • Investor asing tercatat memborong saham ASII saat IHSG mencetak rekor transaksi kemarin. Namun, saham BUMI dan BRPT justru tampil dominan perdagangan hari ini.
IHSG Ditutup Menguat-0.jpg
Karyawan berkatifitas di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks saham paling likuid LQ45 membuka perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, dengan tekanan di zona merah. Pukul 09.00 WIB, LQ45 turun -0,38% ke level 891,75, kontras dengan euforia rekor IHSG sehari sebelumnya.

Namun, ada pemandangan menarik di papan bursa pagi ini. Saat indeks blue chip tertekan, saham-saham energi justru tampil perkasa memimpin pasar. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melesat 4,37% ke Rp430, diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang naik 2,37% ke Rp3.020 pada sesi pembukaan.

Fenomena ini menjadi kelanjutan dari dinamika pasar kemarin, Senin, 19 Januari 2026. Saat itu, IHSG sukses menutup hari dengan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di level 9.133,87 dengan nilai transaksi jumbo mencapai Rp35,92 triliun.

Pada perdagangan kemarin tersebut, berdasarkan data yang dihimpun TrenAsia.id, investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) total Rp710,51 miliar. Kendati demikian, data Stockbit mencatat asing tetap agresif melakukan akumulasi pada saham blue chip tertentu.

Misalnya, PT Astra International Tbk (ASII) menjadi incaran utama asing kemarin dengan nilai beli bersih Rp131,01 miliar. Selain itu, asing juga memborong PT Vale Indonesia Tbk (INCO) senilai Rp120,42 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp92,37 miliar.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai kondisi ini menunjukkan pasar saham domestik sedang berada dalam fase kepercayaan yang kuat. Meskipun asing fokus pada blue chip seperti ASII kemarin, likuiditas salah satunya dari investor domestik pagi ini justru merotasi dananya ke sektor energi yang lebih agresif.

"Investor kini lebih fokus pada fundamental emiten dan prospek domestik. Kenaikan indeks tidak digerakkan oleh euforia semata, melainkan oleh selektivitas terhadap sektor yang memiliki kinerja keuangan solid," ujar Hendra kepada TrenAsia.Id pada Selasa, 20 Januari 2026. 

Likuiditas Domestik Rajai Bursa

Hendra menambahkan, kuatnya likuiditas domestik menjadi kunci ketahanan pasar. Di saat asing keluar atau hanya masuk selektif pada ASII dan perbankan, investor lokal justru "pasang badan" menopang saham-saham energi dan mineral yang pagi ini menghijau.

Menghadapi pasar yang dinamis ini, Hendra menyarankan strategi buy on weakness. "Bagi investor, strategi paling relevan adalah disiplin dan tidak mengejar harga di tengah reli. Pendekatan trading terukur dengan manajemen risiko ketat menjadi kunci," sarannya.

Untuk perdagangan hari ini, Hendra merekomendasikan beberapa saham pilihan. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menarik untuk trading buy dengan target harga Rp1.430. Saham turnaround PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga layak dicermati dengan target Rp179.

Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang sedang rally pagi ini masih memiliki target harga di level Rp450. Bagi investor profil risiko tinggi, saham PT MNC Land Tbk (KPIG) dan PT Net Visi Media Tbk (NETV) bisa menjadi opsi spekulatif dengan target masing-masing Rp300 dan Rp250.

"Peluang tetap terbuka pada saham-saham yang memiliki katalis, likuiditas, dan valuasi yang relatif rasional. Selama likuiditas domestik terjaga, IHSG masih memiliki ruang bertahan," tutup Hendra.