Korporasi

Aset MAP Aktif Adiperkasa Bertambah Meski Pendapatan Turun, Pakai Strategi Apa?

  • Penjualan emiten bidang ritel PT MAP Adiperkasa menukik hingga 36,01% sepanjang 2020. Penjualan emiten berkode MAPA ini turun signifikan dari Rp7,47 triliun pada 2019 menjadi Rp4,78 triliun pada 2020. Kendati demikian, MAP Adiperkasa justru mengalami kenaikan aset perusahaan hingga 31% pada tahun lalu.

<p>Pengunjung melintas di depan salah satu tenant pusat perbelanjaan yang menggelar diskon belanja Natal dan Tahun Baru di Mal Senayan City, Jakarta, Jum&#8217;at, 25 Desember 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Pengunjung melintas di depan salah satu tenant pusat perbelanjaan yang menggelar diskon belanja Natal dan Tahun Baru di Mal Senayan City, Jakarta, Jum’at, 25 Desember 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Penjualan emiten bidang ritel PT MAP Aktif Adiperkasa menukik hingga 36,01% sepanjang 2020. Penjualan emiten berkode MAPA ini turun signifikan dari Rp7,47 triliun pada 2019 menjadi Rp4,78 triliun pada 2020.

Kendati demikian, MAP Adiperkasa justru mengalami kenaikan aset perusahaan hingga 31% pada tahun lalu.

Distribusi penjualan MAPA paling banyak mengalami penurunan di pulau Jawa. Nilainya merosot dari Rp546 miliar pada 2019 menjadi Rp325 miliar di 2020. Padahal bagi emiten ini, pasar di Pulau Jawa merupakan titik vital lantaran mendominasi 68% dari keseluruhan penjualan.

Keuangan perusahaan masih bisa tertolong berkat beban pokok penjualan yang secara beriringan ikut menurun 30,5% dari Rp4,13 triliun pada 2019 menjadi Rp2,86 triliun pada 2020.

Adapun jumlah beban keuangan dan beban lainnya perusahaan masing-masing tercatat sebesar Rp97,26 miliar dan Rp43,11 miliar. Sementara itu, perusahaan bisa menorehkan pendapatan pajak sebesar Rp13,41 miliar pada 2020. Hal itu berbanding terbalik dengan tahun sebelumya di mana perusahaan harus mengeluarkan Rp264 miliar untuk beban pajak.

Dengan demikian, laba kotor perusahaan diketahui tetap menurun dari Rp3,34 triliun pada 2019 menjadi Rp1,91 triliun pada 2020.

Jika sudah dikurangi pos beban, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp12 miliar pada 2020. Capaian itu turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp677 miliar. Nilai laba per saham MAPA pun ikut melorot dari Rp241 per lembar saham pada 2019 menjadi Rp1 per lembar saham pada 2020.

Liabilitas Membengkak

Selama 2020, perusahaan mencatatkan penambahan liabilitas hingga 127% atau setara Rp1,33 triliun. Kenaikan yang tinggi itu dipicu adanya liabilitas sewa sebesar Rp737,068 miliar dan utang bank yang membengkak sebesar Rp493,25 miliar pada tahun lalu.

Maka, perusahaan membukukan liabilitas sebesar Rp2,39 triliun pada 2020 dari sebelumnya Rp1,05 triliun pada 2019.

Dengan menimbang ekuitas perusahaan yang sebesar Rp2,98 triliun, maka diketahui debt to equity ratio MAPA sebesar 0,80 kali atau 80%. Itu artinya, modal bersih perusahaan masih lebih tinggi 20% dibandingkan kewajiban hutangnya.

Ekspansi Mulai Membuahkan Hasil

Kendati penjualan lesu selama tahun lalu, perusahaan masih mampu menambah total aset. MAPA mengalami pertumbuhan aset dari Rp4,10 triliun pada 2019 menjadi Rp5,38 triliun pada 2020.

Corporate Secretary PT MAP Adiperkasa Yully Purwati menjelaskan, kenaikan 31% aset perusahaan merupakan efek dari ekspansi ke Filipina yang dilancarkan pada September 2020.

Hal itu ditempuh lewat entitas usaha, yakni thletica International Holdings Pte Ltd yang mengakuisisi 100% saham New Golden Heritage Pte Ltd dari Teamway Asia Ltd. Nilai transaksinya sebesar US$4 juta atau setara Rp 55,6 miliar.

Peningkatan aset itu terjadi pada pos persediaan yang bertambah Rp49,91 miliar yang berasal dari aktivitas entitas usaha di Filipina dan Thailand. 

Secara keseluruhan, MAPA telah memiliki sepuluh entitas usaha yang bergerak di bidang ritel dan manufaktur. (RCS)