ARA Ribuan Persen, Intip Potensi RLCO Usai Suspensi Dicabut
- Saham RLCO resmi disuspensi BEI usai naik ribuan persen. Evaluasi bursa dan potensi skema FCA jadi perhatian investor pasar modal.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara atau melakukan suspensi terhadap perdagangan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mulai sesi I perdagangan Rabu, 21 Januari 2026.
Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga saham yang dinilai sangat signifikan dan tidak wajar dalam waktu relatif singkat. Berdasarkan papan perdagangan BEI, saham RLCO saat ini berstatus “suspended” dan belum dapat diperdagangkan hingga adanya pengumuman resmi lanjutan dari otoritas bursa.
Suspensi saham RLCO merupakan bagian dari mekanisme pengawasan BEI dalam menjaga keteraturan pasar dan melindungi investor. Sejak melantai di bursa melalui penawaran umum perdana (IPO) pada 8 Desember 2025, harga saham RLCO tercatat melonjak sangat tajam.
Secara akumulatif, saham ini telah naik lebih dari 5.000 persen sejak IPO. Dalam satu bulan terakhir, kenaikannya berada di kisaran 555 persen hingga lebih dari 900 persen, tergantung periode perhitungan.
Sehari sebelum suspensi diberlakukan, yakni pada tanggal 20 Januari 2026, saham RLCO kembali melonjak 20 persen ke level Rp8.700 dan menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA), sehingga memicu penilaian Unusual Market Activity (UMA) oleh BEI.
Potensi Skema Setelah Suspensi Dicabut
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk bergerak di sektor pengolahan sarang burung walet dengan merek dagang Realfood. Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada 2026 serta berencana memperluas ekspansi pasar ekspor, termasuk ke Vietnam dan Amerika Serikat.
Hingga saat ini, BEI menegaskan penghentian sementara perdagangan saham RLCO semata-mata disebabkan oleh pergerakan harga yang ekstrem, bukan karena adanya pelanggaran laporan keuangan maupun keterbukaan informasi.
Berdasarkan catatan pengawasan BEI, saham RLCO tercatat telah beberapa kali dikenakan penghentian sementara perdagangan sehingga kini masuk dalam klaster suspensi ketiga.
Untuk saham yang berada dalam kategori ini, BEI umumnya melakukan evaluasi yang lebih mendalam dan berhati-hati. Proses tersebut tidak hanya mencakup pemantauan pergerakan harga dan volume transaksi, tetapi juga penelaahan terhadap keterbukaan informasi emiten serta potensi risiko yang dapat merugikan investor.
Dengan mekanisme tersebut, masa suspensi diperkirakan berlangsung lebih lama, yakni sekitar satu bulan, sebelum keputusan pembukaan kembali perdagangan dapat diambil.

Apabila suspensi resmi dicabut, saham RLCO berpeluang besar ditempatkan pada skema Full Call Auction (FCA). Skema ini diterapkan BEI untuk saham-saham dengan volatilitas tinggi guna membatasi transaksi hanya pada waktu tertentu, sehingga pembentukan harga tidak terjadi secara agresif dalam satu sesi perdagangan.
Melalui FCA, harga saham diharapkan terbentuk secara lebih wajar berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran, sekaligus mengurangi potensi lonjakan atau koreksi tajam yang berlebihan.
Dalam kondisi saham masih disuspensi, investor diimbau untuk tetap bersikap rasional dan tidak terpengaruh oleh spekulasi maupun rumor pasar. BEI menekankan pentingnya mengandalkan informasi resmi, baik melalui pengumuman bursa maupun keterbukaan informasi yang disampaikan emiten.
Masa jeda selama suspensi dapat dimanfaatkan investor untuk menelaah kembali fundamental perusahaan, termasuk kinerja keuangan, prospek bisnis, serta kesesuaian valuasi saham dengan kondisi riil perseroan.
Pengalaman pada sejumlah kasus sebelumnya menunjukkan saham yang mengalami kenaikan harga sangat ekstrem cenderung menghadapi volatilitas tinggi ketika kembali diperdagangkan.
Pergerakan harga yang tajam, baik ke atas maupun ke bawah, berpotensi terjadi dalam waktu singkat. Oleh karena itu, kehati-hatian dan disiplin strategi menjadi kunci bagi investor agar dapat mengelola risiko secara lebih terukur saat saham kembali dibuka di pasar.

Chrisna Chanis Cara
Editor
