Analisis Prospek Saham BBRI, Terus Diburu Asing
- Fundamental BBRI tetap solid dengan laba tumbuh, kredit meningkat, dan dividen tinggi. Apakah saham Bank BRI masih layak dikoleksi investor saat ini?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatatkan aksi beli bersih (net buy) investor asing terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026.
Di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi tekanan global dan aksi jual investor asing, BBRI justru menjadi salah satu saham yang paling banyak diburu. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor: apakah saham BBRI masih layak dibeli setelah menguat dalam sebulan terakhir?
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net buy sebesar Rp233,2 miliar pada saham BBRI.
Jumlah tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan saham lain pada hari itu, meski secara keseluruhan investor asing masih mencatatkan net sell Rp250,5 miliar di seluruh pasar saham Indonesia.
Baca juga : IHSG Hari Ini 03 Agustus 2026 Dibuka Naik ke 6.272,62 Poin
Asing Borong Hampir 77 Juta Saham BBRI
Aksi akumulasi asing terhadap saham BBRI terlihat cukup signifikan. Sepanjang perdagangan 31 Juli 2026, investor asing membeli sekitar 153,64 juta lembar saham, sementara volume penjualannya mencapai 76,65 juta saham.
Dengan demikian, volume net buy mencapai sekitar 76,99 juta lembar saham. Seiring meningkatnya permintaan, harga saham BBRI ditutup menguat 1,67% ke level Rp3.040 per saham.
Besarnya aksi beli tersebut menunjukkan bahwa investor institusi global masih melihat prospek positif terhadap emiten perbankan terbesar di Indonesia itu, meski pasar saham domestik masih menghadapi berbagai tekanan.
Aksi beli asing tidak terjadi tanpa alasan. Di tengah ketidakpastian global, investor cenderung mencari emiten dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta memiliki kemampuan menghasilkan laba yang konsisten.
BBRI memenuhi hampir seluruh kriteria tersebut. Selain menjadi bank dengan aset terbesar di Indonesia, BRI juga merupakan pemimpin pasar pada segmen pembiayaan mikro yang selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan perusahaan.
Laba BRI Terus Bertumbuh pada 2026
Dari sisi fundamental, kinerja BBRI masih menunjukkan tren yang solid. Pada kuartal I 2026, BRI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun, meningkat sekitar 13,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara hingga Mei 2026, laba bersih bank secara standalone mencapai Rp20,42 triliun, atau tumbuh sekitar 9,52% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh membaiknya efisiensi operasional. Beban bunga turun sekitar 14,38% menjadi Rp18,26 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) meningkat 6,64% menjadi Rp48,50 triliun.
Efisiensi tersebut memperkuat kemampuan BRI menghasilkan profit di tengah tingginya suku bunga.
Kredit Tumbuh Dua Digit, Aset Tembus Rp2.000 Triliun
Selain laba, ekspansi bisnis BRI juga masih berlangsung agresif. Hingga Mei 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp1.417,19 triliun, tumbuh 12,23% YoY, jauh di atas target pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang berada pada kisaran 7%-9%.
Sementara itu:
- Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.546,44 triliun, naik 8,6% YoY.
- Total aset meningkat menjadi Rp2.073,13 triliun, tumbuh 9,49% YoY.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas intermediasi BRI masih berjalan kuat meski kondisi ekonomi global belum sepenuhnya pulih.
Perbaikan juga terlihat pada kualitas pendanaan dan efisiensi. Per Maret 2026, rasio Current Account Saving Account (CASA) BRI mencapai sekitar 68,07%.
Tingginya dana murah membuat Cost of Fund (CoF) turun dari sekitar 3% menjadi 2,3%. Di sisi lain, analis JPMorgan menilai kualitas aset BRI, khususnya pada segmen mikro, mulai menunjukkan perbaikan berkat pengawasan kredit yang lebih ketat. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan JPMorgan menaikkan rekomendasi saham BBRI.
Baca juga : Indeks LQ45 Hari Ini, 03 Agustus 2026 Dibuka Naik 1,37 ke 622,62 Poin
Harga Saham Masih Turun Secara Tahunan
Meski mengalami pemulihan dalam beberapa pekan terakhir, harga saham BBRI sebenarnya masih berada jauh di bawah level tertinggi tahun lalu.
Data perdagangan menunjukkan:
- Tertinggi 52 minggu: Rp4.270
- Terendah 52 minggu: Rp2.540
- Harga penutupan (31 Juli 2026): Rp3.040
- Harga (3 Agustus 2026, Sesi I): Rp3.010
Dalam satu bulan terakhir, saham BBRI telah naik sekitar 11,9%. Namun secara year-to-date (YtD), saham ini masih terkoreksi sekitar 17,7%. Artinya, valuasi BBRI masih berada di bawah rata-rata historisnya.
Baca juga : Bedah Saham DEWA: Kinerja, Prospek Bisnis dan Dividen Perdana
Dividen BBRI Masih Menjadi Daya Tarik
Salah satu alasan utama investor tetap melirik saham BBRI adalah dividen yang sangat besar. Untuk tahun buku 2025 yang dibayarkan pada 2026, BRI membagikan dividen terbesar sepanjang sejarah perusahaan, yakni mencapai Rp52,1 triliun.
Rinciannya meliputi:
- Dividen interim: Rp137 per saham
- Dividen final: Rp209 per saham
- Total dividen: Rp346 per saham
Dengan harga saham sekitar Rp3.040, maka dividend yield BBRI mencapai sekitar 11,4%, salah satu yang tertinggi di sektor perbankan Indonesia. Yield dua digit tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang berorientasi pada pendapatan pasif (income investing).
Selain dividen tinggi, valuasi BBRI juga dinilai masih menarik. Saat ini saham BBRI diperdagangkan dengan:
- Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 7,7 kali
- Price to Book Value (PBV) sekitar 1,34 kali
Kedua rasio tersebut berada di bawah rata-rata historis BBRI. Sebanyak 16 dari 21 analis yang memantau saham ini masih memberikan rekomendasi Buy.
Konsensus Bloomberg menunjukkan target harga rata-rata sekitar Rp3.723 per saham, atau memberikan potensi kenaikan (upside) sekitar 25% dibandingkan harga saat ini.
Sementara itu, JPMorgan juga meningkatkan rekomendasi dari Underweight menjadi Overweight dengan target harga Rp3.400.
Risiko yang Tetap Perlu Diperhatikan
Meski prospeknya masih positif, investor tetap perlu mempertimbangkan sejumlah risiko.
Pertama, tekanan makroekonomi seperti pelemahan Rupiah dan suku bunga tinggi masih dapat memengaruhi sektor perbankan. Kedua, pergerakan saham BBRI sangat sensitif terhadap aliran dana asing.
Hal tersebut terlihat dari perdagangan 3 Agustus 2026, ketika investor asing kembali membukukan net sell sekitar Rp72,8 miliar, hanya beberapa hari setelah melakukan aksi beli besar.
Selain itu, agenda review indeks MSCI dan FTSE Russell juga berpotensi memicu volatilitas tambahan apabila kembali terjadi arus keluar dana asing dari pasar Indonesia.
Bagi investor jangka panjang, sejumlah analis masih menilai BBRI sebagai salah satu pilihan utama di sektor perbankan. Fundamental perusahaan tetap kuat, pertumbuhan kredit masih berada di atas industri, kualitas aset membaik, serta dividen yang tinggi menjadi penopang menarik di tengah volatilitas pasar.
Sementara untuk investor jangka pendek, beberapa sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness. Analis memperkirakan area support berada pada kisaran Rp2.960–Rp3.000, sedangkan area resistance berada di kisaran Rp3.060–Rp3.130.
Investor juga disarankan melakukan akumulasi secara bertahap, bukan membeli seluruh posisi sekaligus, mengingat volatilitas pasar masih cukup tinggi.
Aksi beli bersih investor asing sebesar Rp233,2 miliar terhadap saham BBRI menunjukkan bahwa bank pelat merah tersebut masih menjadi salah satu emiten favorit investor global di tengah tekanan pasar saham Indonesia.
Didukung pertumbuhan laba dua digit, ekspansi kredit yang kuat, kualitas aset yang membaik, dividen dengan yield sekitar 11,4%, serta valuasi yang masih relatif murah, saham BBRI dinilai masih memiliki prospek menarik untuk investasi jangka panjang.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati dinamika pasar global, arah kebijakan suku bunga, serta perkembangan review indeks MSCI dan FTSE Russell yang berpotensi memengaruhi arus modal asing dan volatilitas harga saham.

Muhammad Imam Hatami
Editor
