Nasional

Analis Prediksi Indonesia Masih Dapat 'Durian Runtuh' dari Komoditas Energi Tahun Depan

  • Efek durian runtuh ini pula yang pada gilirannya dapat membuat Indonesia terbebas dari "awan hitam" pada tahun 2023.
RMK Energy.jpg
Ilustrasi distribusi batu bara milik PT RMK Energy Tbk (RMKE) / Dok. RMK Energy (rmkenergy.com)

JAKARTA - Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi Indonesia masih masih akan mendapatkan efek "durian runtuh" dari komoditas energi di tahun depan.

Efek durian runtuh ini pula yang pada gilirannya dapat membuat Indonesia terbebas dari "awan hitam" pada tahun 2023.

Menurut Ibrahim, dengan keberhasilan Indonesia untuk bertahan di tengah gejolak ekonomi yang sudah berlangsung selama dua tahun, tinggal setahun lagi Indonesia harus bertahan untuk perekonomian dalam negeri bisa "lepas landas".

"Tahun depan Indonesia masih akan merasakan windfall dari komoditas energi, apalagi perang Rusia-Ukraina belum akan berakhir sehingga negara Eropa tidak bisa menggunakan gas dari Rusia tetapi akan kembali menggunakan batu bara sehingga ini menjadi pasar baru bagi Indonesia," kata Ibrahim dikutip dari risetnya, Rabu, 14 Desember 2022.

Kinerja perekonomian Indonesia pun dikatakan Ibrahim masih cukup impresif sehingga bisa menjadi penopang untuk tahun depan.

Kinerja tersebut diindikasikan oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang pada kuartal III-2022 menembus 5,72% secara tahunan, inflasi menurun ke 5,42% secara tahunan pada November 2022, cadangan devisa yang positif, serta neraca perdagangan yang surplus selama 30 bulan berturut-turut.

Kuatnya ekonomi domestik pun dinilai Ibrahim dapat membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2023. Pertumbuhan ekonomi pada tahun depan diprediksi Ibrahim bisa mencapai 5,2%.

Dengan naiknya daya beli masyarakat sebagai tulang punggung perekonomian, pertumbuhan pada tahun 2023 dikatakan Ibrahim akan tetap terjaga.

Ibrahim pun optimis tahun 2023 akan diwarnai oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup positif dibanding negara berkembang lainnya, inflasi yang lebih rendah, dan nilai kurs rupiah yang menguat.

"Ini yang akan ditunggu oleh pelaku pasar," pungkas Ibrahim.