Airlangga Ingin Tingkatkan Daya Saing Komoditas Ekspor RI di Global
- Neraca Perdagangan Indonesia yang tetap surplus dalam kurun waktu 22 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 menjadi salah satu indikator peningkatan ekonomi nasional.

Muhammad Heriyanto
Author


Ilustrasi ekspor-impor. / Pixabay
(Pixabay)JAKARTA - Neraca Perdagangan Indonesia yang tetap surplus dalam kurun waktu 22 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 menjadi salah satu indikator peningkatan ekonomi nasional.
Salah satu penyebab surplus ini yakni faktor kenaikan harga komoditas ekspor seperti batubara, CPO, dan nikel. Kenaikan harga komoditas itu diproyeksikan menjadi peluang yang baik bagi Neraca Perdagangan Indonesia di tahun 2022.
“Meningkatnya neraca perdagangan ini menjadikan ekonomi nasional semakin pulih sehingga diharapkan mampu menarik minat investor,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Jumat, 8 April 2022.
- Harga Batu Bara Terus Melambung, Ini Faktor-Faktor Pendorongnya
- Seringkali Dianggap Sama, Inilah Perbedaan Koin dan Token Kripto
- Kurs Dolar Hari Ini: Dibayangi Pengetatan Moneter The Fed, Rupiah Dibuka Melemah
Kredibilitas Indonesia bagi investor pada tahun 2021 semakin membaik terlihat dari peningkatan realisasi investasi pada kuartal IV-2021 sebesar 15,2% (yoy) serta terlampauinya target investasi yang direncanakan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar Rp858,5 triliun dengan capaian sebesar Rp901,02 triliun.
Selain adanya peningkatan indikator ekonomi dan kredibilitas yang baik bagi investor, Indonesia juga diuntungkan dengan adanya Presidensi G20 tahun ini. Peran Indonesia dalam Presidensi G20 ini diproyeksikan mampu memberi peluang bagi Indonesia dalam memimpin proses pemulihan ekonomi global melalui tiga prioritas utama yaitu kesehatan, digitalisasi ekonomi, dan transisi energi.
Menko Airlangga menjelaskan tentang peran Presidensi G20 dalam membantu Indonesia mengembangkan perdagangan global. Pengembangan dilakukan diantaranya yakni dengan promosi industri sawit berkelanjutan melalui strategi hilirisasi.
“Dengan adanya hilirisasi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing komoditas ekspor di tingkat global dan memperkuat industri manufaktur dalam negeri,” jelas Menko Airlangga.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan ekspor komoditas global melalui pemberian fasilitas promosi perdagangan dan investasi serta sosialiasi penggunaan Local Currency Settlement.
“Di samping meningkatkan daya saing, Pemerintah juga berupaya meningkatkan ekspor komoditas global melalui pemberian fasilitas promosi perdagangan dan investasi serta sosialiasi penggunaan Local Currency Settlement. Insentif lain juga diberikan pemerintah dalam bentuk perpanjangan batas waktu Pengajuan Pembebasan Sanksi Penangguhan Ekspor sebagai respon Pemerintah dalam mengurangi dampak yang dirasakan eksportir akibat pandemi,” pungkas Menko Airlangga.

Fakhri Rezy
Editor
