AI Rakus Daya, Gen Z Global Buru Saham Nuklir
- Gen Z global kini lirik saham nuklir dan grid demi pasokan listrik AI. Simak tren investasi hijau 'Clean Tech 2.0' di Wall Street selengkapnya.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pernahkah terpikir bahwa setiap kali Anda meminta ChatGPT menulis puisi atau meminta Midjourney membuat gambar, sebuah turbin listrik di belahan dunia lain harus berputar kencang? Aktivitas digital yang tampak maya ini sebenarnya memakan energi fisik yang sangat besar.
Selama satu dekade terakhir, narasi investasi hijau global didominasi oleh panel surya dan kincir angin. Namun, memasuki tahun 2026, peta jalan portofolio hijau di Wall Street dan London mengalami pergeseran tektonik yang sangat besar akibat satu entitas unik.
Pemicunya adalah teknologi yang ironisnya juga dicintai Gen Z, yaitu Kecerdasan Buatan. Di pasar global, investor muda kini menghadapi realitas baru yang pragmatis. Transisi energi bukan lagi sekadar soal etika lingkungan, melainkan soal matematika energi dasar yang krusial.
The AI Power Crunch
Goldman Sachs memperkirakan permintaan listrik dari pusat data akan tumbuh sangat pesat pada tahun 2030. Infrastruktur energi hijau generasi pertama seperti angin dan surya dinilai tidak cukup reliabel. Mereka sulit menopang server AI yang harus menyala tanpa kedip sedikitpun.
Inilah yang memicu tren baru di portofolio global bernama Clean Tech 2.0. Uang pintar tidak lagi mengejar produsen panel surya yang margin labanya tergerus. Sebaliknya, arus modal mengalir deras ke sektor infrastruktur jaringan grid dan teknologi nuklir modular modern.
Perubahan ini terlihat nyata ketika raksasa teknologi seperti Microsoft mulai meneken kontrak pembelian listrik nuklir. Langkah ini memberikan sinyal kuat ke pasar global. Jika perusahaan paling inovatif di dunia bertaruh pada nuklir, investor ritel pun ikut bergerak.
Kebangkitan "Nuclear Bros"
Secara sosiologis, terjadi fenomena menarik di kalangan investor Gen Z global yang sering disebut Nuclear Bros. Berbeda dengan generasi tua yang trauma masa lalu, Gen Z di Barat memandang risiko iklim jauh lebih menakutkan daripada risiko radiasi yang terkendali.
Bagi mereka, berinvestasi pada ETF Uranium atau perusahaan pengembang reaktor modular adalah bentuk aktivisme iklim logis. Mereka melihat angka emisi, bukan ketakutan masa lalu. Sentimen ini tercermin di forum diskusi saham di mana uranium kini bersanding dengan saham teknologi.
Strategi Portofolio Masa Depan
Tren global ini mengajarkan satu hal penting bagi investor Indonesia untuk diversifikasi definisi hijau. Portofolio hijau tidak harus selalu berisi saham energi terbarukan konvensional. Di luar negeri, definisi ini meluas mencakup perusahaan pendukung seperti pembuat kabel transmisi tembaga.
Gen Z yang cerdas tidak lagi hanya melihat label ESG di permukaan saja. Jika revolusi AI adalah masa depan, maka berinvestasi pada makanan bagi AI yakni listrik bersih yang stabil adalah strategi lindung nilai terbaik melawan ketidakpastian ekonomi.

Alvin Bagaskara
Editor
