Nasional & Dunia

Ahli Strategi Jepang Sebutkan Pelarangan Huawei Tidak Cukup

  • Menurut Ahli Strategi Jepang, Dr Michito Tsuruoka saat kunjungan ke Melbourne, Australia, memblokir Huawei dari jaringan 5G negara tidak dapat mengurangi risiko ke Australia dari peralatan telekomunikasi perusahaan yang digunakan di tempat lain.

Logo Huawei

Image Source : Grid.id

(Istimewa)

Jepang-Huawei adalah pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia dengan pendapatan US$154 miliar pada tahun lalu. Hubungan pendiri Huawei dengan Tentara Pembebasan Rakyat China, serta tumpang tindih antara pertumbuhan global perusahaan dan aspirasi keamanan Beijing, telah meningkatkan kekhawatiran bagi negara-negara di dunia.

Menurut Ahli Strategi Jepang, Dr Michito Tsuruoka saat kunjungan ke Melbourne, Australia, memblokir Huawei dari jaringan 5G negara tidak dapat mengurangi risiko ke Australia dari peralatan telekomunikasi perusahaan yang digunakan di tempat lain.

“Menghentikan Huawei dari membangun jaringan 5G di beberapa negara sekutu juga tidak akan menjamin keamanan informasi. Termasuk untuk demokrasi di masa depan,” jelasnya sebagaimana dilansir dari The Sydney Morning Herald.

“Jika hanya AS, Australia dan Jepang mengecualikan Huawei, lalu bagaimana dengan negara lain? Bahkan negara kita apakah dapat memastikan keselamatan dan keamanan informasi dan teknologi kita?” tanya profesor Universitas Keio itu. “Karena kita selalu berinteraksi dengan negara lain yang menggunakan Huawei. Otomatis pelarangan Huawei menjadi tidak ada gunanya, bukan?”

“Taktik menekan negara-negara lain untuk memblokir perusahaan kontroversial itu juga menimbulkan pertanyaan. Terutama mengenai strategi dalam mengelola persaingan teknologi dengan China,” kata Dr Tsuruoka. “Jika kita benar-benar perlu mencegah negara lain, maka jenis pengaruh apa yang kita miliki? Itu sesuatu yang perlu kita tanyakan lebih lanjut.”

Diketahui, Jepang, bersama dengan Australia, Selandia Baru, dan AS, telah memblokir Huawei dari bagian-bagian sensitif jaringan telekomunikasi sejak 2018. Hal itu dilakukan di tengah-tengah dugaan teknologi Huawei digunakan untuk mengintip komunikasi domestik dan memberikan keuntungan politik bagi Beijing. AS telah mendesak sekutunya untuk melakukan hal yang sama.

Dua negara lain dalam jaringan berbagi intelijen Five-Eyes, Inggris dan Kanada, memberikan tanggapan beragam tentang adopsi teknologi Huawei.

Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O’Brien mengatakan saat audiensi di Kanada pada hari Sabtu, bahwa menggunakan Huawei akan membuat Beijing mengetahui setiap catatan kesehatan, setiap catatan perbankan, setiap posting media sosial serta semua hal tentang orang-orang Kanada.

“Mengadopsi teknologi dan perangkat Huawei di Kanada dapat menempatkan pembagian data intelijen AS dalam risiko,” katanya.

Sementara itu Kanselir Jerman Angela Merkel mengisyaratkan kesediaannya tetap mengizinkan Huawei masuk ke jaringan 5G negara itu. Di negara berkembang, Huawei telah menemukan banyak klien untuk peralatan telekomunikasi yang kurang canggih.

Pemerintahan Merkel telah memutuskan penyedia jaringan China Huawei dapat menyediakan peralatan jaringan 5G untuk negaranya. Alasannya, memblokir Huawei ke dalam jaringan 5G Jerman tidak ada dalam standar keamanan terbaru yang disesuaikan dengan Administrasi Jaringan Federal. Sebagaimana dilansir dari Handelsblatt.

Tags: