Ada Tren Peningkatan Kinerja, Tapi Pendapatan Asuransi Jiwa Susut 8,6 Persen
JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat adanya tren peningkatan kinerja secara kuartalan dari sejumlah aspek. Fauzi Arfan, Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI melaporkan ada peningkatan pendapatan menjadi Rp91,86 triliun. Nilai ini naik 81,7% quartal to quartal (qtq) dari Rp50,56 triliun pada kuartal III-2020. “Peningkatan didorong oleh membaiknya ekonomi makro, peningkatan kesadaran […]

Ananda Astri Dianka
Author


Pekerja membersihkan logo beberapa perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Rabu 10 Juni 2020. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2020 nilai aset asuransi jiwa mengalami penurunan secara tahun berjalan maupun secara tahunan sedangkan asuransi umum justru tumbuh, industri asuransi jiwa mencatatkan total aset Rp 529,2 trilun atau menurun 10,4 % (ytd) dari Desember 2019 senilai Rp 590,7 triliun. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat adanya tren peningkatan kinerja secara kuartalan dari sejumlah aspek.
Fauzi Arfan, Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI melaporkan ada peningkatan pendapatan menjadi Rp91,86 triliun. Nilai ini naik 81,7% quartal to quartal (qtq) dari Rp50,56 triliun pada kuartal III-2020.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
“Peningkatan didorong oleh membaiknya ekonomi makro, peningkatan kesadaran masyarakat akan perlunya perlindungan asuransi jiwa, vaksinasi COVID-19, dan strategi industri,” kata Fauzan dalam paparan kinerja virtual, Selasa, 9 Maret 2021.
Kendati secara qtq membaik, pendapatan total industri melambat 8,6% year on year (yoy) menjadi Rp215,42 triliun dari sebelumnya Rp235,80 triliun pada kuartal IV-2019.
Sedangkan untuk hasil investasi mencapai Rp17,95 pada kuartal IV- 2020, melambat dibandingkan dengan Rp23,53 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Ini disebabkan oleh kondisi pasar modal di Indonesia yang kurang kondusif hinggakuartal IV-2020, ditandai dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 5,1% yoy,” tambah Fauzan.
Fauzan juga memaparkan, total pendapatan premi baru melalui saluran bancassurance meningkat dari Rp63,45 triliun pada kuartal IV-2019 menjadi Rp70,89 triliun di kuartal IV- 2020.
Untuk kanal agensi, total pendapatan premi mencapai Rp 37,04 triliun pada kuartal IV-2019 dan Rp25,15 triliun kuartal IV 2020.
Sementara itu, saluran alternatif mencatat total pendapatan premi baru sebesar Rp25,44 triliun pada 2019 menjadi Rp18,71 triliun di kuartal IV-2020.
