Tren Pasar

Ada Problem Laba di Balik IPO RANS yang Langsung ARA

  • IPO RANS sukses mencuri perhatian setelah sahamnya menyentuh ARA di hari pertama. Laporan keuangan 2025 menunjukkan pendapatan dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan.
RANS.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Debut perdana PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 10 Juli 2026, berlangsung impresif. Saham emiten milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina tersebut langsung menyentuh Auto Reject Atas (ARA) pada hari pertama perdagangan.

Meski disambut antusias investor, terdapat sisi lain yang patut dicermati. Di balik lonjakan harga saham pada hari pertama, kinerja keuangan perseroan justru menunjukkan perlambatan. Pendapatan dan laba bersih RANS sepanjang 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menarik perhatian karena investor tidak hanya menilai potensi pertumbuhan bisnis ke depan, tetapi juga perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: KLBF dan INCO Naik, AMRT Melorot

Saham RANS Langsung ARA pada Hari Pertama IPO

Saham berkode RANS resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan harga penawaran umum perdana (IPO) Rp170 per saham. Sesaat setelah perdagangan dibuka, saham RANS langsung melonjak ke Rp228 per saham, atau naik 58 poin (34,12%) dari harga IPO.

Kenaikan tersebut membuat saham RANS langsung terkena Auto Reject Atas (ARA) sehingga harga bertahan di level Rp228 hingga penutupan perdagangan Kamis, 10 Juli 2026.

Menariknya, sepanjang sesi perdagangan harga tidak bergerak dari level tersebut. Artinya, harga pembukaan, harga tertinggi, harga terendah, hingga harga penutupan sama-sama berada di Rp228 per saham.

Antusiasme investor juga tercermin dari minimnya tekanan jual. Sepanjang perdagangan, tidak terdapat antrean penawaran jual (offer) yang berarti, sehingga saham bertahan di level ARA hingga akhir sesi.

Pada perdagangan perdana, saham RANS mencatatkan sejumlah statistik berikut,

  • Harga IPO: Rp170 per saham.
  • Harga penutupan: Rp228 per saham.
  • Kenaikan: 58 poin atau 34,12%.
  • Status: Auto Reject Atas (ARA).
  • Volume transaksi: 6.103 lot.
  • Frekuensi transaksi: 1.701 kali.
  • Nilai transaksi: sekitar Rp184,75 juta.

RANS menjadi emiten ke-963 yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sekaligus emiten ketujuh yang melantai di pasar modal sepanjang 2026.

Melalui penawaran umum perdana saham, RANS melepas 2,525 miliar saham baru atau sekitar 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

Dari aksi korporasi tersebut, perseroan berhasil menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar. Dana hasil IPO telah dialokasikan untuk mendukung ekspansi bisnis perusahaan di berbagai lini usaha.

Dana IPO Dipakai untuk Konser, AI hingga Cipungland

Berdasarkan prospektus perusahaan, penggunaan dana hasil IPO akan difokuskan pada sejumlah agenda ekspansi. Porsi terbesar, sekitar 37,61% atau Rp161,5 miliar, akan digunakan untuk penyelenggaraan konser dan berbagai kegiatan hiburan sebagai penguatan bisnis inti perseroan.

Selanjutnya,

  • Rp85 miliar (19,80%) digunakan untuk mengakuisisi 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia.
  • Rp80 miliar (18,64%) dialokasikan untuk pengembangan kawasan hiburan Cipungland.
  • Rp35 miliar (8,15%) digunakan untuk investasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui kerja sama dengan Feedloop.
  • Rp37,8 miliar (8,82%) menjadi tambahan modal kerja PT Rans Nikmat Sejahtera.
  • Rp29,95 miliar (6,98%) digunakan untuk melunasi kredit investasi.

Komposisi penggunaan dana tersebut menunjukkan strategi RANS untuk memperluas sumber pendapatan di luar bisnis media dan konten digital.

Prosesi pencatatan saham perdana RANS juga menjadi perhatian karena dihadiri sejumlah tokoh bisnis nasional.

Beberapa nama yang tampak hadir antara lain Haji Isam dan Garibaldi "Boy" Thohir, yang ikut menyaksikan pencatatan saham perdana RANS di Bursa Efek Indonesia.

Kehadiran para pengusaha tersebut semakin menambah sorotan terhadap IPO RANS yang sejak masa penawaran umum telah menarik perhatian pelaku pasar.

Baca juga : IHSG Dibuka Naik Menuju 6.000, PRDL Masih ARA

Di Balik Euforia IPO, Pendapatan dan Laba Justru Turun

Di balik lonjakan harga saham pada hari pertama perdagangan, laporan keuangan RANS justru menunjukkan perlambatan kinerja sepanjang 2025. Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp353,4 miliar, turun sekitar 13,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan juga terjadi pada laba bersih. Sepanjang 2025, laba bersih perusahaan berada di kisaran Rp56,69 miliar hingga Rp61 miliar, atau turun sekitar 38,8% hingga 41,6% dibandingkan 2024.

Margin keuntungan juga ikut tertekan. Net Profit Margin (NPM) turun dari sekitar 23,6% menjadi 16%, mencerminkan profitabilitas perusahaan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski fundamental jangka pendek mengalami perlambatan, antusiasme investor menunjukkan pasar masih menaruh ekspektasi besar terhadap prospek pertumbuhan RANS.

Melalui dana IPO, perusahaan berencana memperluas bisnis ke sektor hiburan, kecantikan, makanan dan minuman, taman hiburan, hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Baca juga : Outlook Pasar Saham Indonesia di Tengah Tekanan Defisit APBN 2026

Ke depan, tantangan terbesar perseroan adalah membuktikan bahwa berbagai investasi tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih kuat.

Dengan kata lain, lonjakan harga saham pada hari pertama mencerminkan optimisme pasar terhadap potensi bisnis RANS. Namun, keberhasilan jangka panjang akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengubah dana hasil IPO menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan serta memperbaiki kinerja keuangan di tengah persaingan industri hiburan dan ekonomi kreatif yang semakin kompetitif.