Stok Bensin Menipis, Ini 5 Tips Hadapi Kelangkaan BBM
- BBM nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hari. Lantas, bagaimana cara menghadapi kelangkaan BBM?

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengampaikan, saat ini stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hari.
“(Cadangan BBM) masih cukup, 20 hari,” kata Bahlil di Istana Negara, saat menghadiri rapat mengenai situasi yang memanas di Timur Tengah, pada Senin, 2 Maret 2026.
Serangan antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran telah membuat operasional Selat Hormuz ditutup Iran. Diketahui, selat ini adalah jalur yang sangat penting untuk perdagangan minyak dari kawasan Timur Tengah ke Asia, termasuk Indonesia.
Bahlil memastikan konflik ini belum berdampak ke BBM bersubsidi di dalam negeri. Namun, ia juga mengakui konflik tersebut kemungkinan akan berdampak pada harga minyak dunia.
“Sampai hari ini enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” jelasnya.
BBM adalah sumber energi penting dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk kebutuhan transportasi. Untuk berjaga-jaga, jika kondisi seperti ini apa yang harus kita lakukan?
Tips Menghadapi Kelangkaan BBM
Dilansir dari Liftango, dan Sustainability Global, berikut tips untuk menghadapi kelangkaan BBM:
1. Berjalan Kaki dan Bersepeda

Berjalan kaki dan bersepeda tetap menjadi bentuk perjalanan yang paling ramah lingkungan dan mudah diakses. Keduanya tidak memerlukan bahan bakar langsung, tidak menghasilkan emisi, dan bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental.
Selain emisi, aktivitas ini meningkatkan kesehatan, mengurangi kebisingan, dan mengembalikan ruang publik. Investasi pada jalur khusus dan zona pejalan kaki akan melipatgandakan manfaat ini. Meskipun berjalan kaki mungkin membutuhkan waktu lebih lama, jangan lupa mempertimbangkan manfaatnya bagi kesehatan.
Sepeda juga tidak membutuhkan banyak sumber daya untuk diproduksi dibandingkan dengan mobil, dan sepeda tidak menambah polusi udara atau berkontribusi terhadap pemanasan global.
2. Menggunakan Kendaraan Listrik
Kendaraan listrik menjadi bagian penting dalam strategi transportasi ramah lingkungan. Berbeda dengan kendaraan konvensional, kendaraan ini menggunakan tenaga baterai dan tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot.
Meski proses produksi baterainya tetap memiliki dampak terhadap lingkungan, analisis sepanjang siklus penggunaan menunjukkan bahwa kendaraan listrik lebih unggul, terutama jika sumber listriknya berasal dari energi terbarukan.
Seiring berkembangnya jaringan stasiun pengisian daya di berbagai negara, penggunaan kendaraan listrik kini tidak lagi terbatas pada kalangan awal pengadopsi, tetapi mulai menjangkau masyarakat luas dan turut mendukung target iklim global.
3. Nebeng Teman
Hal ini membantu mengurangi jumlah kendaraan yang melintas di jalan, sehingga konsumsi bahan bakar dan kemacetan dapat ditekan. Berbagi perjalanan dengan rekan kerja atau teman bisa membantu menekan pengeluaran bahan bakar sekaligus mengurangi kepadatan kendaraan di jalan.
Cobalah mencari teman sekantor yang tempat tinggalnya searah biar bisa bergantian berbagi tumpangan. Selain lebih ramah lingkungan, biaya bensin pun bisa ditanggung bersama. Sama-sama untung, kan?
Saat kamu berbagi tumpangan dengan orang lain yang perlu pergi ke tujuan yang sama atau berdekatan, Anda tidak hanya mengurangi jejak karbon Anda; Anda juga dapat mengurangi pengeluaran bahan bakar Anda.
4. Naik Transportasi Umum

Berinvestasi dalam transportasi umum memiliki salah satu pengembalian terbesar untuk mengurangi kemacetan dan polusi. Menggunakan bus, kereta, tau transportasi umum lainnya mampu menekan penggunaan BBM per orang.
Selain itu, langkah ini juga berkontribusi dalam mengurangi kemacetan serta menekan tingkat polusi udara di kawasan perkotaan. Bahkan diketahui satu kereta dapat menggantikan ratusan mobil pribadi, dan emisi turun secara signifikan ketika ditenagai oleh energi terbarukan.
5. Bijak dalam Menggunakan AC Mobil
Di Indonesia yang memiliki iklim tropis, penggunaan AC saat berkendara hampir tidak bisa dihindari. Sebaiknya, atur suhu AC pada posisi sedang agar kabin mobil tidak terlalu dingin, karena ini dapat membantu menghemat bahan bakar.
Alternatifnya, saat bepergian ke daerah dataran tinggi, membuka jendela sedikit untuk membiarkan udara sejuk masuk juga bisa menjadi cara yang efektif.

Distika Safara Setianda
Editor
