Tren Pasar

5 Fakta Kinerja BBNI 2025: Laba Rp20 T, NPL Turun 1,9 Persen

  • BBNI bukukan laba Rp20 triliun dan kredit tumbuh 15,9% di 2025. Berikut 5 fakta kinerja fundamental serta perbaikan kualitas aset bank selengkapnya.
BNI Bidik Milenial Investasi Digital .jpg
Nasabah berkativitas dengan gawainya di salah satu kantor cabang Bank Negara Indonesia (BNI) di kawasan SCBD, Jakarta, Jum'at, 11 Maret 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI menutup tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan yang sangat solid. Bank pelat merah ini sukses mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20 triliun meski dihadapkan pada volatilitas ekonomi global yang tinggi sepanjang tahun.

Capaian impresif ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang agresif namun terukur sebesar 15,9% secara tahunan atau Year on Year. Strategi ekspansi ke sektor produktif terbukti efektif menopang pendapatan bunga bersih perseroan di tengah tekanan biaya dana akibat penyesuaian suku bunga pasar.

Manajemen mengakui bahwa tantangan makro ekonomi yang dihadapi perseroan sepanjang tahun lalu memang cukup berat namun berhasil dikelola dengan baik. "Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga," ujar Direktur Utama BBNI Putrama Wahju Setyawan pada Selasa, 3 Februari 2026. 

1. Rekor Laba dan Operasional

Momentum pertumbuhan bisnis BBNI terlihat sangat kuat pada kuartal IV tahun 2025 dengan pencapaian rekor operasional baru yang memuaskan. Perseroan berhasil membukukan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan atau PPOP sebesar Rp9,4 triliun yang merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya pada tahun yang sama.

Akselerasi kinerja operasional di penghujung tahun ini menjadi pendorong utama laba bersih yang menembus angka psikologis Rp20 triliun. Capaian ini mencerminkan keberhasilan strategi transformasi yang dijalankan manajemen dalam meningkatkan produktivitas aset dan efisiensi operasional perusahaan secara menyeluruh di semua lini bisnis.

Putrama menjelaskan bahwa hasil gemilang ini merupakan buah dari strategi penguatan pondasi bisnis yang dilakukan secara konsisten oleh manajemen. "Capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan," tegasnya.

2. Strategi Pendanaan Efisien

Kunci utama tingginya profitabilitas BBNI adalah keberhasilan dalam menghimpun dana murah atau CASA secara masif untuk menekan biaya dana. Pertumbuhan kredit sebesar 15,9% sepenuhnya didanai oleh dana murah yang tumbuh 28,9% secara tahunan menjaga Cost of Fund tetap rendah dan efisien bagi bank.

Struktur pendanaan ini didominasi oleh pertumbuhan giro yang melonjak 43,8% serta tabungan yang tumbuh solid 11,2% secara tahunan. Pengelolaan neraca difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan efisiensi biaya dana yang menjadi landasan utama dalam menjaga margin keuntungan bank tetap stabil.

Putrama menambahkan bahwa kemampuan bank menjaga likuiditas yang sehat menjadi faktor penentu dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global. "BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," jelasnya.

3. Disiplin Risiko Ketat

Pertumbuhan kredit yang tinggi diimbangi dengan disiplin risiko yang ketat tercermin dari perbaikan rasio kredit bermasalah secara signifikan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto berhasil ditekan turun menjadi 1,9% atau membaik 10bps dibandingkan tahun sebelumnya berkat proses seleksi debitur yang sangat selektif.

BBNI juga menyiapkan bantalan risiko yang sangat tebal dengan NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio 46,9%. Langkah antisipatif ini menunjukkan prinsip kehati-hatian atau prudence yang diterapkan manajemen dalam mengantisipasi potensi pemburukan ekonomi global di masa mendatang.

Direktur Finance & Strategy BBNI Hussein Paolo Kartadjoemena menekankan pentingnya peran teknologi canggih dalam menjaga kualitas portofolio kredit bank saat ini. "Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," ungkapnya.

4. Kredit Produktif Diversifikasi

Fungsi intermediasi BBNI berjalan sangat optimal dengan penyaluran kredit yang tumbuh double digit 15,9% menembus rata-rata pertumbuhan industri perbankan. Fokus ekspansi kredit diarahkan pada sektor-sektor produktif yang memiliki dampak pengganda besar bagi perekonomian nasional serta memiliki profil risiko yang lebih terukur.

Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang dihasilkan dari penyaluran kredit ini mencapai Rp40,3 triliun sepanjang tahun. Meskipun imbal hasil kredit sedikit tertekan namun volume penyaluran yang besar mampu mengkompensasi hal tersebut dan tetap menghasilkan pendapatan operasional yang solid.

Paolo menambahkan bahwa diversifikasi sektor menjadi strategi ampuh dalam memitigasi risiko konsentrasi di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. "Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujarnya.

5. Transformasi dan Permodalan

Posisi permodalan BBNI tercatat sangat kuat dengan rasio kecukupan modal atau CAR mencapai 20,7% di akhir tahun 2025. Modal jumbo ini memberikan keleluasaan bagi bank untuk terus berekspansi secara agresif di tahun-tahun mendatang tanpa khawatir melanggar batasan regulasi permodalan yang berlaku.

Selain itu sumber pendapatan bank semakin beragam dengan pertumbuhan pendapatan non bunga atau Fee Based Incomesebesar 5,2%. Kenaikan pendapatan jasa ini didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui kanal digital yang semakin diminati nasabah serta layanan trade finance yang handal.

Transformasi yang dijalankan tidak hanya soal digitalisasi tetapi juga menyentuh aspek sumber daya manusia dan budaya kerja perusahaan. "Transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas secara menyeluruh," kata Putrama.