4 Fakta IHSG Merah: Dari Isu MSCI hingga Kasus Powell
- 4 Fakta IHSG anjlok ke 8.884: Panic selling, isu MSCI, hingga kasus Jerome Powell. Phintraco Sekuritas rekomendasi saham TLKM & ASII. Cek analisisnya.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisinya di level psikologis 9.000 pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026. Indeks ditutup melemah signifikan sebesar 0,58% ke level 8.884,72. Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung masif pada saham konglomerasi yang sebelumnya reli panjang.
Kegagalan menembus resisten kuat ini langsung memicu gelombang tekanan jual yang agresif di seluruh sektor. Tim Riset Phintraco Sekuritas menyebut bahwa IHSG yang belum mampu bertahan di atas level 9.000 memicu terjadinya aksi profit taking, terutama terhadap saham-saham konglomerasi yang telah menjadi kontributor penguatan indeks.
Sentimen negatif semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar Rupiah dan ketidakpastian geopolitik global yang meningkat tajam. Dalam risetnya, Phintraco menambahkan, "Profit taking tersebut telah memicu terjadinya panic sellingsehingga sempat membuat IHSG tertekan hingga level 8.715, sebelum akhirnya membaik namun masih ditutup negatif," dalam ulasannya pada Senin, 12 Januari 2026.
1. Sinyal Teknikal & Antisipasi MSCI
Secara teknikal, penutupan IHSG di bawah level MA5 mengonfirmasi pelemahan momentum jangka pendek. Indikator MACD dan Stochastic RSI saat ini menunjukkan sinyal koreksi yang berlanjut, didukung oleh peningkatan volume jual yang signifikan. Phintraco memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways cenderung melemah dengan menguji support8.725.
Tekanan jual yang terjadi sangat agresif hingga menekan indeks ke level terendah harian di area 8.700-an. Pelaku pasar terlihat panik melepas posisi mereka di saham-saham berkapitalisasi besar. Pelemahan saham-saham tersebut disinyalir juga mengantisipasi pengumuman MSCI mengenai kebijakan baru perhitungan free float.
Risiko penurunan lebih lanjut terbuka lebar jika level support gagal menahan tekanan jual dalam beberapa hari ke depan. Sentimen rebalancing indeks global ini membuat investor memilih langkah konservatif. Phintraco mengingatkan, "Kebijakan baru perhitungan free float yang akan diumumkan pada akhir bulan ini."
2. Paradoks Data Ritel dan Rupiah
Data ekonomi domestik sebenarnya memberikan sinyal positif melalui pertumbuhan penjualan ritel sebesar 6,3% YoY pada November 2025. Angka ini merupakan laju pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024. Namun, data positif ini seolah diabaikan pasar karena Rupiah justru melemah ke level Rp16.855 per dolar AS. pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026.
Mata uang garuda tertekan hebat di tengah data ritel yang membaik secara statistik. Investor asing tampaknya lebih fokus pada risiko eksternal dibandingkan fundamental dalam negeri. Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa pelemahan rupiah ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran akan prospek ekonomi domestik.
Kondisi ini membuat investor cenderung mengalihkan aset ke mata uang dolar sebagai safe haven yang lebih aman. Ketidakpastian makroekonomi ini menjadi penghalang utama bagi laju indeks saham di awal pekan. Tekanan kurs yang persisten memaksa pelaku pasar menahan diri untuk melakukan akumulasi saham.
3. Eskalasi Ketegangan Politik Global
Situasi geopolitik dunia kembali memanas seiring terjadinya gelombang protes di Iran yang telah memakan korban jiwa. Konflik internal ini berpotensi meluas menjadi isu internasional yang lebih besar. Phintraco menyebut situasi ini berpotensi menjadi salah satu sumber eskalasi ketegangan politik global yang serius.
Sentimen negatif ini secara langsung memengaruhi indeks di bursa Eropa dan kontrak futures di Wall Street yang bergerak melemah. Indonesia sebagai pasar negara berkembang terkena dampak rembetan pelarian modal. Hal ini terjadi setelah adanya pernyataan Presiden Trump yang bermaksud untuk melakukan intervensi langsung.
Risiko gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi kekhawatiran utama investor global saat ini. Pasar merespons hal ini dengan aksi jual aset berisiko. Respons negatif ini muncul karena konflik di Iran diiringi gelombang protes yang berimbas kematian warga sipil.
4. Drama The Fed dan Jerome Powell
Kabar mengejutkan datang dari AS di mana Departemen Kehakiman membuka penyelidikan kriminal terhadap Chairman The Fed, Jerome Powell. Kasus ini terkait kesaksian renovasi gedung The Fed. Phintraco melaporkan bahwa Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Jerome Powell terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat.
Pasar menilai langkah hukum ini memiliki muatan politis yang sangat kental dari eksekutif untuk mengintervensi kebijakan moneter. Pasar meresponsnya sebagai tindakan dari Presiden Trump untuk menekan bank sentral atau sebagai upaya untuk mengganti Chairman The Fed lebih cepat dari jadwal seharusnya.
Krisis kepercayaan di otoritas moneter terkuat dunia ini memberikan dampak psikologis luar biasa pada arus modal global. Investor khawatir kebijakan suku bunga akan menjadi tidak terukur di masa depan. Ketidakpastian ini diperparah dengan fakta bahwa masa jabatan Jerome Powell baru akan berakhir di Mei 2026.

Alvin Bagaskara
Editor
