Tren Global

3 Kebiasaan yang Dikira Ramah Lingkungan, Ternyata Berisiko

  • Mulai dari sedotan kertas hingga tren thrifting, banyak kebiasaan yang dianggap ramah lingkungan ternyata menyimpan risiko bagi lingkungan maupun kesehatan
36da2d76-4716-4b19-ba39-95d57639a6f3.jpg
Konsumen memilih pakaian dalam ajang thrifting bertajuk Nglapak-Day Season 8 di Convention Hall Terminal Tirtonadi, Solo, Minggu 19 Maret 2023. (Chrisna Chanis Cara/TrenAsia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang mulai mengubah kebiasaan sehari-hari menggunakan sedotan kertas, membawa tas kain saat belanja, hingga membeli pakaian bekas atau preloved

Sejumlah penelitian menunjukkan  tidak semua pilihan yang dianggap “ramah lingkungan” benar-benar sesederhana itu. Di balik label hijau tersebut, terdapat berbagai fakta ilmiah yang sering luput dari perhatian publik.

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Kamis, 12 Maret 2026, berikut sederet kebiasaan yang dikira ramah lingkungan, justru berbagaya baik bagi lingungan, atau ke kesehatan manusia itu sendiri,

Sedotan Kertas

Sedotan kertas muncul sebagai pengganti sedotan plastik setelah banyak negara dan perusahaan makanan cepat saji melarang penggunaan plastik sekali pakai. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa solusi ini tidak sepenuhnya bebas masalah. 

Penelitian tahun 2023 yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Antwerp di Belgia menguji 39 jenis sedotan dari berbagai bahan, termasuk kertas, bambu, plastik, dan kaca. 

Hasilnya menunjukkan, sekitar 90% sedotan kertas yang diuji mengandung PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances), yaitu bahan kimia yang sering disebut sebagai “forever chemicals” karena sangat sulit terurai di lingkungan. 

PFAS biasanya digunakan untuk membuat sedotan kertas tahan air, tetapi berbagai penelitian mengaitkan paparan zat ini dengan sejumlah risiko kesehatan seperti gangguan fungsi hati, gangguan ginjal, penurunan sistem imun, hingga potensi peningkatan risiko kanker.  Selain itu, penelitian lain di Spanyol menemukan bahwa beberapa senyawa kimia dari sedotan kertas dapat bermigrasi ke dalam minuman.

Masalah lain muncul dari sisi produksi, beberapa studi life cycle assessment menunjukkan bahwa sedotan kertas memiliki jejak karbon produksi yang lebih tinggi dibandingkan sedotan plastik karena membutuhkan bahan baku dari pohon serta proses manufaktur yang lebih kompleks. 

Bahkan beberapa analisis di Inggris menyebutkan bahwa sedotan kertas dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi ketika terurai di tempat pembuangan akhir. Karena itu, banyak peneliti berpendapat bahwa solusi paling efektif sebenarnya bukan mengganti jenis sedotan, melainkan mengurangi penggunaannya. 

Jika sedotan tetap diperlukan, alternatif yang lebih berkelanjutan adalah menggunakan sedotan stainless steel, kaca, atau bambu yang dapat dipakai berulang kali dalam jangka panjang.

Baca juga : Teknologi AI Berpeluang Perkuat Analisis ESG bagi Investor

Tote Bag

Tas kain atau tote bag telah lama menjadi simbol gaya hidup ramah lingkungan. Banyak toko bahkan memberikan insentif bagi pelanggan yang membawa tas belanja sendiri. Namun dari sudut pandang ilmiah, tas kain juga memiliki tantangan lingkungan yang cukup besar. 

Sebagian besar tote bag dibuat dari kapas, sementara tanaman kapas termasuk komoditas yang sangat intensif dalam penggunaan bahan kimia. Data global menunjukkan bahwa budidaya kapas menggunakan sekitar 10 persen pestisida dunia dan 25 persen insektisida dunia, selain juga membutuhkan air dalam jumlah besar selama proses produksinya.

Karena proses produksi yang berat tersebut, dampak karbon dari tote bag juga relatif tinggi. Sejumlah studi lingkungan menunjukkan bahwa tas katun harus digunakan sekitar 327 kali agar dampak karbonnya setara dengan kantong plastik yang digunakan dua kali. 

Sebagai perbandingan, tas kertas hanya perlu digunakan sekitar tujuh kali untuk menyeimbangkan dampak lingkungannya. Permasalahan muncul karena banyak tote bag, terutama tas promosi, justru hanya digunakan beberapa kali sebelum akhirnya menjadi sampah. 

Selain itu, banyak tas kain modern dibuat dari campuran bahan seperti katun dan polyester, yang membuatnya sulit didaur ulang karena materialnya tidak mudah dipisahkan. Oleh karena itu, solusi yang lebih efektif bukan membeli banyak tas kain baru, melainkan memaksimalkan penggunaan tas yang sudah dimiliki hingga benar-benar rusak.

Thrifting

Tren membeli barang bekas atau thrifting juga semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda. Selain lebih terjangkau secara harga, praktik ini dianggap membantu mengurangi limbah tekstil dari industri fashion. 

Secara umum, anggapan ini memang memiliki dasar yang kuat. Laporan tahun 2023 dari platform jual beli bekas Carousell memperkirakan bahwa transaksi barang bekas di platform mereka membantu menghindari sekitar 153.141 ton emisi karbon. 

Rata-rata satu transaksi barang bekas dapat menghindari sekitar 14 kilogram CO₂e, yang setara dengan produksi sekitar 22 botol plastik baru. Hal ini terjadi karena pembelian barang bekas dapat memperpanjang umur produk dan mengurangi kebutuhan produksi barang baru.

Namun di sisi lain, booming thrifting di negara maju juga menciptakan paradoks dalam sistem perdagangan global pakaian bekas. Ketika pasar barang bekas domestik di negara maju semakin aktif, pakaian yang diekspor ke negara berkembang sering kali merupakan barang dengan kualitas lebih rendah. 

Salah satu contoh paling jelas terlihat di Kantamanto Market, pasar pakaian bekas terbesar di Ghana yang menerima sekitar 15 juta item pakaian bekas setiap minggu dari negara-negara Barat. 

Baca juga : Konflik Global dan Sanksi Ubah ESG Jadi Tameng Bisnis

Penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar 18 persen pakaian tersebut yang layak dijual kembali sebagai produk berkualitas, sementara sisanya menjadi limbah tekstil yang menumpuk dan mencemari lingkungan setempat. 

Meski demikian, thrifting tetap bukan sumber utama masalah limbah tekstil global. Data dari asosiasi industri garmen menunjukkan bahwa impor pakaian bekas ilegal hanya sekitar 0,5% dari total impor tekstil ilegal, sementara sebagian besar justru berasal dari impor pakaian baru murah dalam jumlah besar.

 Banyak peneliti lingkungan menekankan, kunci utama gaya hidup berkelanjutan adalah mengurangi konsumsi, menggunakan barang lebih lama, memperbaiki barang sebelum menggantinya, serta memanfaatkan kembali produk yang sudah ada. 

Dengan kata lain, solusi paling efektif bukan sekadar membeli produk yang berlabel “ramah lingkungan”, tetapi mengubah pola konsumsi secara keseluruhan. Tanpa perubahan pola konsumsi tersebut, bahkan produk yang paling “hijau” sekalipun tetap berpotensi menciptakan dampak lingkungan baru.