Tren Pasar

10 Fakta IPO yang Jarang Diketahui Investor

  • Jangan hanya tergiur saham IPO. Simak 10 fakta IPO yang jarang diketahui, mulai dari oversubscription, lock-up period, hingga cara memilih saham yang tepat.
ipo-master-tb-1-1-1.jpeg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) kerap menjadi magnet bagi investor. Tidak sedikit saham yang mencatat kenaikan signifikan pada hari pertama perdagangan sehingga memunculkan anggapan bahwa membeli saham IPO hampir selalu menguntungkan.

Namun, di balik euforia tersebut, terdapat sejumlah fakta yang sering luput dari perhatian investor, khususnya investor ritel. Oversubscription, kenaikan harga pada hari pertama, hingga prospektus perusahaan belum tentu menjadi jaminan bahwa suatu saham akan memberikan keuntungan dalam jangka panjang.

Lantas, apa saja fakta IPO yang jarang diketahui? Bagaimana cara memilih saham IPO yang layak dikoleksi?

1. IPO Bukan Kesempatan Langka, tetapi Momen Penjualan yang Dirancang

Banyak orang menganggap IPO sebagai kesempatan langka untuk membeli saham sebelum harganya melonjak. Padahal, proses IPO pada dasarnya merupakan momen ketika perusahaan dan pemegang saham lama menjual sebagian kepemilikannya kepada publik.

Waktu pelaksanaan IPO umumnya dipilih ketika kondisi pasar dinilai paling mendukung agar perusahaan memperoleh valuasi yang optimal. Penjamin emisi (underwriter) juga bertugas membantu memastikan proses penawaran berjalan sukses dan harga saham menarik bagi pasar.

2. Oversubscription Tidak Menjamin Kualitas Perusahaan

Istilah oversubscription sering dijadikan indikator bahwa suatu IPO sangat diminati investor. Padahal, tingginya jumlah pemesanan saham hanya menunjukkan besarnya minat terhadap penawaran tersebut, bukan kualitas fundamental perusahaan.

Perusahaan dengan IPO yang mengalami oversubscription puluhan hingga ratusan kali belum tentu memberikan imbal hasil yang baik setelah tercatat di bursa. Karena itu, investor sebaiknya tetap menilai prospek bisnis dan kondisi keuangan perusahaan, bukan hanya mengikuti antusiasme pasar.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AMRT dan MEDC Naik, CUAN Turun

3. Banyak Saham IPO Berkinerja Kurang Baik dalam Jangka Panjang

Kenaikan harga pada hari pertama perdagangan memang sering terjadi. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidak sedikit saham IPO yang justru mencatat kinerja di bawah rata-rata pasar dalam jangka panjang.

Salah satu penelitian yang banyak dijadikan rujukan dilakukan oleh Prof. Jay R. Ritter dari University of Florida. Penelitiannya menemukan bahwa banyak saham IPO mengalami underperform dibandingkan perusahaan yang sudah lama tercatat di bursa dalam periode beberapa tahun setelah listing.

Artinya, keuntungan pada hari pertama belum tentu mencerminkan prospek investasi jangka panjang.

4. Harga IPO Tidak Sepenuhnya Ditentukan Mekanisme Pasar

Berbeda dengan saham yang sudah diperdagangkan di bursa, harga IPO tidak sepenuhnya terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar.

Harga penawaran ditentukan melalui proses antara perusahaan, penjamin emisi, dan investor institusi sebelum saham mulai diperdagangkan di pasar sekunder. Secara umum terdapat dua metode penetapan harga IPO, yaitu fixed price dan book building.

5. Prospektus Awal Bukan Dokumen Final

Banyak investor membaca prospektus seolah seluruh informasinya sudah final. Padahal, prospektus awal masih dapat mengalami perubahan, terutama terkait harga penawaran, jumlah saham yang dilepas, hingga struktur penjaminan emisi.

Karena itu, investor sebaiknya selalu memperhatikan prospektus final sebelum memutuskan berinvestasi.

Baca juga : YUPI Terbang 24,8 Persen ke ARA, Cek Kinerja dan Katalis Positifnya

6. Lock-Up Period Bisa Memicu Tekanan Harga Saham

Setelah IPO, pemegang saham lama umumnya tidak dapat langsung menjual sahamnya karena adanya lock-up period yang biasanya berlangsung sekitar 90 hingga 180 hari.

Ketika periode tersebut berakhir, potensi aksi jual dari pendiri maupun investor awal dapat meningkat sehingga memberikan tekanan terhadap harga saham. Oleh sebab itu, jadwal berakhirnya lock-up period menjadi salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan investor.

7. Kenaikan Harga Hari Pertama Tidak Selalu Berlanjut

Fenomena initial pop, yakni lonjakan harga saham pada hari pertama perdagangan, memang cukup umum terjadi. Namun, tidak semua IPO mengalami kenaikan, dan sebagian saham justru turun di bawah harga penawaran setelah euforia pasar mereda.

Volatilitas tinggi pada masa awal perdagangan merupakan karakteristik yang sering terjadi pada saham IPO.

8. IPO Juga Menjadi Jalan Keluar Investor Lama

Selain memperoleh dana untuk ekspansi, IPO juga menjadi kesempatan bagi pendiri perusahaan maupun investor awal seperti private equity atau venture capital untuk merealisasikan keuntungan investasinya.

Karena itu, investor perlu mencermati penggunaan dana hasil IPO serta proporsi saham yang dijual kepada publik.

9. Investor Ritel Tidak Selalu Mendapat Alokasi Besar

Meskipun pemesanan saham IPO kini semakin mudah melalui platform digital, investor ritel tetap berpotensi memperoleh jumlah saham yang lebih sedikit dibandingkan pesanan awal, terutama apabila penawaran mengalami kelebihan permintaan.

Sebagian besar alokasi saham biasanya diberikan kepada investor institusi sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca juga : 8 Fakta Timnas Iran yang Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026

10. Kualitas Bisnis Baru Teruji Setelah Listing

Prospektus dan presentasi manajemen hanya menggambarkan rencana perusahaan. Ujian sesungguhnya dimulai setelah saham resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, ketika perusahaan harus membuktikan kinerjanya melalui laporan keuangan dan pencapaian bisnis setiap kuartal.

Dalam jangka panjang, fundamental perusahaan akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga saham.

Sebelum membeli saham IPO, investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi keuntungan pada hari pertama perdagangan. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain model bisnis perusahaan, tren pendapatan dan laba selama beberapa tahun terakhir, penggunaan dana hasil IPO, tingkat utang, struktur kepemilikan, reputasi penjamin emisi, hingga jadwal berakhirnya lock-up period.

Selain itu, investor juga perlu membandingkan valuasi perusahaan dengan emiten lain di sektor yang sama menggunakan rasio seperti Price to Earnings (P/E), Price to Sales (P/S), maupun EV/EBITDA.

Apabila valuasi perusahaan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata industrinya tanpa didukung prospek pertumbuhan yang kuat, investor patut lebih berhati-hati.

Informasi mengenai IPO dapat diperoleh melalui beberapa sumber resmi, seperti prospektus perusahaan, situs Bursa Efek Indonesia (BEI), platform e-IPO, serta dokumen yang dipublikasikan oleh regulator pasar modal.

Investor juga dapat memantau harga penawaran, jadwal book building, masa penawaran umum, hingga tanggal pencatatan saham sebelum memutuskan mengikuti IPO.

IPO dapat menjadi peluang investasi yang menarik, tetapi juga mengandung risiko yang tidak sedikit.

Karena itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis fundamental perusahaan, bukan semata-mata karena tingginya minat investor atau potensi kenaikan harga pada hari pertama perdagangan.

Pada akhirnya, keberhasilan investasi IPO lebih ditentukan oleh kualitas bisnis perusahaan dalam jangka panjang dibandingkan euforia saat saham pertama kali melantai di bursa.