Adu Tangguh Emiten Batu Bara, ADRO atau PTBA?
- Empat emiten batu bara besar, ADRO, ADMR, UNTR, dan PTBA, kompak mencatat penurunan laba di kuartal I-2025. Siapa yang paling siap bertahan?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA ā Empat raksasa industri batu bara Indonesia tengah menghadapi tekanan yang tak bisa dihindari. Di tengah bayang-bayang transisi energi global dan cuaca yang kian tak menentu, kinerja keuangan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kompak melemah pada kuartal Iā2025.
Laba bersih keempat emiten anggota Indeks LQ45 ini anjlok tajam, menandai berakhirnya fase kenyamanan yang selama ini mengiringi dominasi batu hitam. Harga komoditas yang terkoreksi, lonjakan beban operasional, serta tekanan iklim dan logistik menjadi kombinasi sempurna yang menyeret margin ke titik kritis.
Dari konglomerasi milik Boy Thohir hingga BUMN energi, tak satu pun yang berhasil menghindar dari tren penurunan ini. Kini, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang rugi paling dalam, melainkan siapa yang paling cepat beradaptasi untuk bertahan?
- Ungguli Thailand dan Vietnam, Nilai Tambah Manufaktur RI Masuk 12 Besar Dunia
- Kompolnas: Kejahatan Siber Ancaman Global, Bukan Lagi Masalah Lokal
- Siapakah Sosok Emma Chamberlain? Influencer yang Memandu Karpet Merah Met Gala 2025
ADRO
Sebagai salah satu pemain utama di sektor ini, ADRO mencatatkan penurunan laba bersih yang drastis hingga 79,5% secara tahunan menjadi US$76,69 juta atau sekitar Rp1,27 triliun. Penurunan ini tak lepas dari anjloknya pendapatan usaha sebesar 22,3% menjadi US$381,6 juta.
Info saja, Adaro memang berhasil memangkas beban pokok pendapatan hampir 5%, namun tak cukup untuk meredam penyusutan margin. Laba bruto ikut anjlok lebih dari 46% menjadi US$110,3 juta. Penurunan ini mencerminkan tekanan struktural yang mulai menggerogoti ketahanan bisnis batu bara konvensional.
ADMR
Anak usaha Adaro yang berfokus pada batu bara metalurgi ini turut mencatatkan penurunan signifikan. Laba bersih ADMR turun 43,6% menjadi US$65,4 juta, seiring dengan penyusutan pendapatan usaha sebesar 27,17% ke angka US$199,9 juta. Mayoritas pendapatan berasal dari pihak berelasi seperti Adaro International Singapore, namun koreksi harga tak terhindarkan.
Menariknya, di tengah tekanan pendapatan, ADMR tetap mencatat pertumbuhan aset dari US$2,07 miliar menjadi US$2,23 miliar. Hal ini menunjukkan strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat struktur dan kapasitas produksi tetap dijalankan, meski berdampak pada efisiensi jangka pendek.
UNTR
UNTR mencatat penurunan laba bersih sebesar 30% secara tahunan menjadi Rp3,2 triliun, meskipun pendapatan tumbuh 6% menjadi Rp34,3 triliun. Kontribusi utama berasal dari segmen alat berat, jasa pertambangan, dan tambang emas. Namun, segmen batu bara termal dan metalurgi yang selama ini menjadi penyumbang utama laba mengalami tekanan akibat turunnya harga dan curah hujan tinggi.
Selain beban pokok pendapatan yang naik 12,23%, UNTR juga mencatat rugi bersih dari entitas asosiasi akibat penurunan nilai investasi di proyek RKEF milik Nickel Industries. Ini menambah beban laba bersih yang sudah tertekan dari lini operasional.
PTBA
Berbeda dari tiga emiten lainnya, PTBA mencatat kenaikan pendapatan 5,83% menjadi Rp9,96 triliun berkat pertumbuhan volume penjualan batu bara sebesar 7% menjadi 10,28 juta ton. Penjualan ekspor dan angkutan batu bara juga mencatat pertumbuhan dua digit.
Namun, lonjakan beban pokok pendapatan sebesar 11,5% membuat laba bruto tergerus. Laba bersih akhirnya turun 50,5% menjadi Rp391,4 miliar. Fluktuasi harga global menjadi faktor utama; indeks harga batu bara Newcastle terkoreksi 17% secara tahunan, sedangkan harga bahan bakar naik 10%, memperparah tekanan biaya logistik dan distribusi.

Ananda Astridianka
Editor
