Industri

Uji Coba Jual Beli Karbon Libatkan 80 Pembangkit Listrik

  • JAKARTA – Pemerintah melakukan uji coba jual beli karbon di subsektor ketenagalistrikan hingga Agustus 2021. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, langkah ini bertujuan untuk mendukung target pemangkasan emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) sebesar 314-398 juta ton pada 2030. Menurutnya, uji coba pasar karbon akan mempercepat […]

<p>Pembangkit listrik ramah lingkungan dari PLN / Dok. PLN</p>

Pembangkit listrik ramah lingkungan dari PLN / Dok. PLN

(Istimewa)

JAKARTA – Pemerintah melakukan uji coba jual beli karbon di subsektor ketenagalistrikan hingga Agustus 2021.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, langkah ini bertujuan untuk mendukung target pemangkasan emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) sebesar 314-398 juta ton pada 2030. Menurutnya, uji coba pasar karbon akan mempercepat pemenuhan target tersebut.

“Dengan adanya mitigasi di beberapa pembangkit listrik, maka pemenuhan GRK melalui capping bisa dijalankan,” ungkapnya dalam sebuah webminar, pekan lalu.

Adapun uji coba perdagangan karbon ini menerapkan mekanisme cap, trade, dan offset. Dengan demikian, nilai emisi karbon dari setiap pembangkit listrik batu bara akan dibatasi.

Penetapan batas diambil berdasarkan intensitas emisi GRK rata-rata tertimbang pada 2019. Sementara perdagangannya diambil dari selisih tingkat GRK terhadap nilai cap.

Rida menjelaskan, uji coba ini diikuti oleh 80 pembangkit listrik. Secara rinci, 19 unit berasal dari pembangkit berkapasitas lebih dari 400 Mega Watt (MW), 51 unit pembangkit berkapasitas 100-400 MW, dan 10 unit pembangkit mulut tambang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 pembangkit dimiliki oleh PLN dan 26 pembangkit dari pengembang swasta atau independent power producer (IPP).

Sepanjang 2019, tambahnya, penurunan emisi GRK subsektor ketenagalistrikan mencapai 8,79 juta ton karbondioksida (CO2). Jumlah itu mencapai 187% dari target yang sebesar 4,71 juta ton.

PLTU yang menyumbang penurunan emisi tersebut menggunakan teknologi CCT atau clean coal technology sebesar 1,29 juta ton CO2 dari kapasitas 3.795 MW.

Selain itu, ada pula PLTGU combine cycle sebesar 4,62 juta ton CO2 dari total kapasitas 4.097 MW. Terakhir, pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) menyumbang penurunan emisi 2,89 juta ton CO2 dengan kapasitas pembangkit 805 MW.