Nasional

Pemerintah Target Kecelakaan Jalan Tol Capai Tingkat Kematian Nol pada 2024

  • Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan tingkat fatalitas kecelakaan di jalan tol dapat mencapai nol pada 2024.

Kendaraan pemudik terjebak kemacetan sebelum memasuki pintu Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Kendaraan pemudik terjebak kemacetan sebelum memasuki pintu Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan tingkat fatalitas kecelakaan di jalan tol dapat mencapai nol pada 2024.

Untuk mencapai itu, Kemenhub melibatkan operator jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk melakukan simulasi penyelamatan kecelakaan jalan tol dengan menggunakan rescue udara berupa helikopter.

“Hal ini sejalan dengan rencana Pemerintah dalam penanganan kecelakaan jalan raya mencapai tingkat fatalitas nol, di mana untuk jalan tol ditargetkan jangka pendek, yaitu di tahun 2024,” ujar Menhub Budi Karya Sumadi ketika meninjau simulasi di Tol Layang Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ) dan Tol Jagorawi, Senin, 10 Mei 2021.

Budi yakin hal tersebut dapat tercapai dengan kerja keras Basarnas, Direktorat Jenderal Hubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kemenhub, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Jasa Marga.

Sebagai informasi, tingkat fatalitas kecelakaan jalan tol tercatat sebesar 0,12 pada 2019. Angka ini turun menjadi 0,109 pada 2020.

“Tidak hanya dari jumlah kecelakaan yang turun, yang juga penting bagi kami adalah jumlah korban meninggal sedapat mungkin juga ditekan hingga mencapai angka nol,” kata Kepala BPJT Kementerian PUPR Danang Parikesit dalam acara yang sama.

Simulasi penanganan kecelakaan Jasa Marga dan Basarnas ini dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dari laporan pengguna jalan, koordinasi petugas-petugas terkait, baik itu petugas di Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC), maupun petugas di lapangan.

Evakuasi korban dilakukan oleh petugas gabungan Jasa Marga yang terdiri dari mobile customer service, rescue, ambulan, sampai derek.

Simulasi menitikberatkan pada evakuasi kecelakaan dengan korban luka berat yang berada di lokasi yang sulit dijangkau serta dibutuhkan penanganan dengan cepat.

Petugas JMTC yang mendapatkan laporan penanganan di lapangan meneruskan permohonan bantuan rescue udara kepada Basarnas.

Selang beberapa waktu kemudian, Basarnas melakukan penjemputan korban dengan menggunakan helikopter untuk selanjutnya membawa korban yang membutuhkan penanganan darurat ke RS Yarsi dan RS Polri. (RCS)