Adaro Andalan Indonesia (AADI) Tunda Dividen 2024, Fokus Ekspansi dan Capex
- Berdasarkan laporan keuangan 2024, AADI mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,21 miliar atau Rp 19,88 triliun, naik 5,86% secara tahunan.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menunjukkan prospek bisnis yang kuat di tengah dinamika industri batu bara. Meskipun kemungkinan besar tidak akan membagikan dividen atas laba bersih tahun buku 2024, perusahaan tetap fokus pada ekspansi dan investasi strategis.
Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Hendriko Gani, dalam ulasannya pada Jumat, 7 Maret 2025, menyebutkan bahwa keputusan tersebut didasari oleh beberapa faktor, termasuk status AADI yang baru melantai di bursa pada Desember 2024, posisi kas saat ini, serta kebutuhan belanja modal (capex) untuk pengembangan usaha.
Di sisi lain, AADI menargetkan mulai membagikan dividen interim pada tahun buku 2025. Dalam prospektus, manajemen AADI merencanakan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) hingga 45% dari laba bersih konsolidasi. Namun, untuk tahun buku 2024, perseroan belum mengumumkan besaran DPR.
- Prakiraan Cuaca Besok dan Hari Ini 08 Maret 2025 untuk Wilayah DKI Jakarta
- Soal Disertasi, Bahlil Pastikan Ikuti Keputusan UI
- Trump Melunak, Perang Dagang dengan Kanada dan Meksiko Sebagian Ditangguhkan
“Dalam Stockbit commentary sebelumnya, kami memperkirakan AADI akan membagikan dividen tahun buku 2025 pada kuartal II-2026, dengan yield mencapai 17% dari harga IPO,” kata Hendriko dalam ulasannya pada Jumat, 7 Maret 2025.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi DPR emiten bersandikan AADI yang mencapai 50%, lebih tinggi dari komitmen dalam prospektus, serta mempertimbangkan belum adanya rencana capex besar dalam waktu dekat.
Berdasarkan laporan keuangan 2024, AADI mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,21 miliar atau Rp 19,88 triliun, naik 5,86% secara tahunan. Laba inti mencapai US$ 1,04 miliar, sedangkan EBITDA operasional sebesar US$ 1,3 miliar dengan margin EBITDA operasional 25%.
Penjualan AADI meningkat 7% menjadi 68,06 juta ton, melampaui target awal yang ditetapkan pada 61-62 juta ton. Namun, meskipun volume penjualan bertumbuh, pendapatan AADI turun 10% menjadi US$ 5,32 miliar akibat pelemahan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 17%.
“Kami mencatat peningkatan dalam pengupasan lapisan penutup, produksi, serta penjualan,” ujar Presiden Direktur dan CEO Adaro Andalan Indonesia, Julius Aslan. Ia menambahkan bahwa meskipun harga batu bara mengalami penurunan, AADI tetap menunjukkan ketahanan dalam menghadapi siklus pasar.
Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, AADI menaikkan belanja modal sebesar 36% menjadi US$ 370 juta. Investasi ini difokuskan pada pengembangan PT Kaltara Power Indonesia (KPI), pengadaan tongkang untuk PT Adaro Logistics, serta penguatan infrastruktur rantai pasokan.
Tak ayal, AADI menargetkan volume penjualan batu bara termal sebesar 65 juta hingga 67 juta ton pada 2025, dengan nisbah kupas 4,3 kali, serupa dengan 2024. Sementara itu, belanja modal diperkirakan mencapai US$ 250 juta hingga US$ 300 juta.
Dari lantai bursa, saham AADI pada penutupan perdagangan Jumat, 8 Maret 2025, bergerak melemah 4,43% ke level Rp6.475 per saham. Alhasil, sepanjang tahun ini saham tersebut telah mengalami penutunan 21,28%.
Kendati begitu, Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas sekuritas yang mengulas saham AADI memberikan rekomendasi beli. Dari 13 sekuritas, sebanyak 11 menyarankan beli, sementara dua lainnya memberikan peringkat hold.
Adapun, target harga saham AADI menurut konsensus sekuritas berada di Rp12.786 dalam 12 bulan ke depan. Dengan demikia, jika investor mengakumulasi saham tersebut sekarang, maka berpotensi meruap return nyaris di atas 50%.

Amirudin Zuhri
Editor
