2 Jenis Respons Dunia Soal Tarif Trump: Lobi atau Lawan
- Sejumlah negara mengecam kebijakan ini karena dinilai mengganggu stabilitas ekonomi dunia, sementara sebagian lainnya memilih pendekatan diplomatis untuk meredakan ketegangan.

Debrinata Rizky
Author


JAKARTA – Setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penerapan tarif resiprokal terhadap 180 negara pada pekan lalu, sejumlah negara langsung merespons kebijakan kontroversial tersebut.
Kebijakan tarif yang ditetapkan Trump terdiri dari dua komponen utama: tarif resiprokal yang bervariasi tergantung negara, serta tarif impor global sebesar 10%. Sejumlah negara mengecam kebijakan ini karena dinilai mengganggu stabilitas ekonomi dunia, sementara sebagian lainnya memilih pendekatan diplomatis untuk meredakan ketegangan.
Berikut adalah respons berbagai negara terhadap kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Trump:
Jalur Balasan
1. China
Komisi Tarif Dewan Kementerian Keuangan China menyatakan bahwa kebijakan tarif Trump tidak sejalan dengan aturan perdagangan internasional dan sangat merugikan China.
Dengan adanya tarif resiprokal, total tarif efektif terhadap produk asal China yang masuk ke AS kini mencapai 54%. Sebagai balasan, China menerapkan tarif sebesar 34% terhadap produk AS dan memasukkan 11 perusahaan asal AS ke dalam daftar hitam, efektif mulai 10 April 2025. China juga menuntut agar AS segera mencabut kebijakan sepihak tersebut.
2. Uni Eropa
Menghadapi tarif 20% dari AS, Uni Eropa dikabarkan tengah mempersiapkan balasan dengan menetapkan tarif sebesar 25% terhadap berbagai produk asal AS.
Menurut laporan Reuters, tarif ini akan diberlakukan dalam dua tahap. Produk seperti berlian, telur, benang gigi, sosis, dan unggas akan dikenai tarif mulai 16 Mei 2025. Sementara itu, produk almond dan kedelai akan dikenai tarif mulai 1 Desember 2025.
Namun, Uni Eropa memutuskan untuk menghapus rencana tarif terhadap produk bourbon, anggur, dan susu asal AS, setelah sebelumnya sempat mempertimbangkan tarif sebesar 50% yang memicu respons keras dari Presiden Trump.
3. Kanada
Perdana Menteri Mark Carney menyatakan bahwa Kanada akan menjatuhkan tarif sebesar 25% terhadap kendaraan impor dari AS, sebagai bentuk balasan.
Meski Kanada tidak termasuk dalam daftar negara terdampak langsung oleh tarif baru Trump, sebelumnya Kanada telah dikenakan tarif atas ekspor baja, aluminium, dan sejumlah produk lainnya ke AS.
Pejabat Kanada menyebutkan bahwa tarif 25% akan dikenakan terhadap barang-barang asal AS senilai sekitar US$42 miliar, termasuk buah-buahan, sayur-sayuran, peralatan, minuman keras, komputer, dan perlengkapan olahraga.
Jalur Negosiasi
1. Vietnam
Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, mengadakan rapat darurat guna merumuskan strategi jangka pendek dan panjang setelah AS memberlakukan tarif sebesar 46% terhadap produk Vietnam.
Meski tarif tersebut cukup tinggi, Vietnam tetap berharap AS menjaga hubungan diplomatik yang baik. Pemerintah Vietnam juga menyadari bahwa target pertumbuhan ekonomi minimal 8% pada tahun ini kini terancam oleh kebijakan baru dari Trump.
2. Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mengambil pendekatan diplomatis dengan menekankan pentingnya menjaga hubungan bilateral jangka panjang. Ia menyatakan bahwa Indonesia akan tetap tenang dan segera mengupayakan perundingan dengan AS serta negara-negara lain.
“Mungkin saudara-saudara mendengar, seluruh dunia diguncang oleh banyak masalah. Perang di mana-mana, perseteruan antara negara-negara besar,” ujar Prabowo dalam kunjungannya ke Majalengka, Jawa Barat, yang disiarkan langsung oleh YouTube Sekretariat Presiden pada Senin, 7 April 2025.
3. Jepang
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menyebut kebijakan tarif Trump terhadap produk Jepang sebagai “krisis nasional”, terutama karena perekonomian Jepang sangat bergantung pada ekspor.
Trump menetapkan tarif sebesar 25% terhadap impor mobil asal Jepang, yang mulai berlaku minggu ini. Ishiba menekankan pentingnya ketenangan dalam menghadapi negosiasi lanjutan dengan AS.
4. Singapura
Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, pada 5 April 2025 memperingatkan bahwa kebijakan tarif baru AS berpotensi memicu perang dagang global.
Ia juga mengimbau masyarakat Singapura untuk bersiap menghadapi potensi gangguan ekonomi di masa depan. “Saat ini, Singapura berdiri di atas fondasi yang kuat, tetapi Anda semua tahu bahwa kita memasuki dunia yang akan semakin berbahaya dan tidak dapat diprediksi,” ujarnya seperti dikutip dari The Straits Times pada 8 April 2025.
5. Kamboja
Melansir The Phnom Penh Post, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyatakan bahwa kenaikan tarif impor oleh AS mencerminkan kerugian besar akibat ketidakseimbangan perdagangan global, yang tercermin dari defisit perdagangan AS.
Meski begitu, Hun Manet menegaskan bahwa Pemerintah Kerajaan Kamboja akan menempuh jalur diplomasi dan melakukan negosiasi dengan pihak AS untuk mencari solusi terbaik.

Ananda Astridianka
Editor
